Requiem




Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Sepertinya aku tidur terlalu lama dan kini aku tak tau harus apa. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di dalam dan di luar terdengar suara-suara. Suara-suara yang memekakkan. 

Aku mendengar suara deru kendaraan. Aku mendengar suara langkah-langkah waktu yang takut terambat. Aku mendengar suara anak-anak dalam dinding yang tertawa. Aku mendengar suara pintu mengetuk pintu yang lain. Aku mendengar suara kepakan camar. Aku mendengar angin lalu. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil lalu menangis. Aku mendengar percakapan tentang hukuman, tentang kematian. Kemudian sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu dan menggema pada seluruh dinding yang lembab. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi. 

***

“...dari mana rasa sakit dan duka cita serta keluh kesah dilenyapkan, tempat cahaya wajah-Mu menghampiri mereka dan senantiasa bersinar atas mereka...”—Ia nampak tak dapat menahan air mata itu jatuh. Tanpa ia sadari dalam tatapan nanarnya yang lekat dan tak teralihkan dari Altar dimana seorang Pastur telah selesai membacakan salah satu bagian dari Liturgi St. Yakobus untuk menutup requiem hari itu. Ia meninggalkan misa itu lebih awal dirasakan olehnya sebuah perasaan yang bergejolak memenuhi rongga dadanya. Mata-mata menuduh tak dihiraukannya. Sesampainya pada tangga masuk gereja itulah ia merasa sudah benar-benar tak kuasa menahan perasaannya sendiri. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya ditambah dengan beban dan penyesalan yang ada, ia terduduk dengan lunglai, tangisnya menjadi-jadi. Lelaki itu tenggelam dalam penyesalan yang entah ia sendiri tak tahu. Hanya saja segala yang terjadi di dalam gereja itu seakan adalah sebuah kutukan baginya. 

Ia merasa berdosa, ia merasa pedang Uriel terhunus di lehernya. Aku berdiri kini tepat dibelakangnya. Tanganku membelai tengkuknya dan perlahan isak tangisnya mereda. Ia usap air mata yang menggenang di pipinya dan berjalan menuju mobil. Di perjalanan aku menghiburnya, berusaha meyakinkannya hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya. Ia menelepon.

“Halo...” 

“H-halo?”

“Acara misa sudah selesai, eh...?”

”Ya, baru saja. Begini, ada yang ingin aku sampaikan,”

“Lanjutkan saja...”

“Tidak, ini sangat mendesak. Kau dimana?”

“Aku hendak menghadirinya, tapi sayang sekali...”

“Tak apa, kau dimana?”

“Aku akan berada di kantor dalam dua puluh menit...”

“Aku akan kesana, terima kasih, Eleanor.”

“Kau baik-baik saja, Fis?”

“Tidak, tidak, kau harus mengetahuinya segera. Tunggu disana!”

“Aku tahu ini berat, tapi kau harus melaluinya. Jika kau membutuhkan apa saja, hubungi aku. Keluargaku sudah menganggapmu seperti bagian dari keluarga kami sendiri.”

“Klik!”—Ia menutup teleponnya dan memacu mobilnya. Tiba-tiba ia merasa harus menutup telepon itu. Eleanor adalah teman kecil kami, ia dan Eleanor tumbuh dan besar bersama. Saat hari itu, Eleanor masih disana dan beberapa bulan setelahnya keluarganya memutuskan untuk pindah. Ia menatap arlojinya, arloji pemberian Eleanor yang diberikan padanya saat acara peluncuran buku pertamanya ketika suara klakson tiba-tiba mengagetkannya dan hampir saja truk dari arah berlawanan menabrak mobilnya. Ia mengerem hingga berhenti, “Ya Tuhan...”—Gerutunya sambil menempelkan dahinya pada setir mobilnya sendiri. Aku mengelap cucuran keringat dingin dan menggenggam tangannya. Begitu dingin, sesaat kemudian ia menghidupkan kembali mobilnya dan kembali berhenti di stasiun gas tak jauh setelahnya.

“Maaf, jika kau yang harus menanggungnya.”—Aku mengusap kepalanya lagi sebelum pergi saat ia mengisi bensin.

***

“Yang paling menakutkanku di dunia ini, kau tahu?” –Ia bertanya kepada wanita itu, wanita muda yang duduk di sebuah sofa berwarna cokelat kacang dengan gaun hitamku yang setengah terlepas—entah ia menganggapnya wanitanya atau bukan, persetan!—dan rokok menyala dibibir merahnya. Langkahnya sempoyongan sambil memegang erat dua gelas berisi segaris cairan mirip air kencing serta menjepit sebotol lagi di ketiaknya. Akhirnya ia duduk melorot di sofa dengan susah payah. Ia melingkarkan lengannya di pundak si wanita. Botol itu menggelinding di kaki meja.

            “Kamu takut nggak bisa ereksi lagi?” –Kata perempuan itu berusaha memancing nafsunya kembali, sambil mengepulkan asap rokok ke langit-langit ruangan yang remang. Aku membenarkan posisiku untuk tetap berada dalam sudut yang tak disadarinya. Wanita ita meraih meraih gelas yang belum di ulurkannya dengan manja. Seperti bayi menjemput botol susu yang bagaimana dia tau itu botol susu dan itu adalah untuknya. Miliknya. Setidaknya dalam fikiran waita itu, ia miliknya malam ini.

            “Bukan, bukan itu. Ini lebih...”

            “Lebih..?”
Si wanita menatap genit wajahnya dengan sesekali menggigit bibir bawahnya sendiri yang merah. Ia hanya  diam dan memegang gelasnya dengan agak gemetar, ditatapnya keremangan jendela. Di luar gelap dan sepertinya ia memasuki kegelapan yang sama, kepalanya berputar, pandangannya memudar, matanya berkunang-kunang. Gelas di tangannya jatuh.

            “Di..dimana?”—Ia tiba-tiba panik.

“Apanya”

“B-bunga? Misa?”

“Kau tak perlu bunga atau apapun selama kau bersamaku, sayangku. Jangan terburu menikahiku hingga memikirkan tentang misa” –Aku ingin mencekik wanita itu saat dia membelainya, namun sebelum wanita itu sempat menyentuh wajahnya, tiba-tiba ia menatap dalam ke arah mata pelacur itu. Ia menggenggam tangannya dengan kekuatan yang terlalu berlebihan. Ia seperti merasa ada yang salah, ia merasa asing dan begitu tidak nyaman dengan tiba-tiba. Wanita itu sepertinya tak tau harus bagaimana. Dalam kebingungannya sendiri, abu di ujung rokoknya telah terjatuh dipangkuan si wanita. Akhirnya padam dengan sendirinya.

“Apa aku mengenalmu?”

            “A-apa?”

            Aku meninggalkan mereka berdua dengan senyum puas menyaksikan raut kebingungan yang membuat wajah wanita itu nampak bodoh, saat ia kehilangan kesadarannya. Sesaat kemudian terdengar wanita itu membanting pintu dan berjalan dengan terisak.

***

            “Permisi, apa kau punya yang seperti ini?” –Ia menunjukkan sobekan dari sebuah majalah musik usang bertahun 196- kepada seorang penjaga toko piringan hitam yang masih bocah. Terdapat gambar kartun sebuah pisang kuning dengan latar belakang kosong entah apa warna sebenarnya.

            “Darimana kau mendapatkannya? Tumpukan majalah usang milik kakekmu?”

           “Apa disini ada?” –Ia melepaskan jaketnya yang agak basah di tempat mantel. Dan meletakkan satu buket bunga bakung di atas tumpukan vinyl- vinyl yang tertata asal dan tertumpuk sekenanya.

            “Itu beberapa dekade yang lalu, kawan”

            “Jadi tidak ada” –Ada sedikit nada kekesalan bercampur kecewa dalam kata-kata yang keluar dari mulutnya.

            “Ini toko musik, bukan museum”

            “Oke, jadi tidak ada. Terima kasih”.

            Ia pun pergi dengan lesu, melipat sobekan majalah itu dan memasukkannya kedalam saku belakang celananya. Di luar gerimis, tapi sisa-sisa matahari sore masih nampak menembus kepungan awan dengan susah payah. Ia  mengenakan kembali jaketnya dengan tergesa, dan dengan tergesa pula ia menerobos gerimis yang sayu itu diiringi suara percik air setiap langkahnya..

            “Hei, kau meninggalkan bungamu!” 

Si penjaga toko musik itu setengah berteriak mengacungkan buket bunga yang ditinggalkan lelaki itu di tokonya. Dari kejauhan ia nampak menutupi kepalanya dengan jaketnya, ia berhenti dan sedang menengok jam di arlojinya. Suara teriakan penjaga toko musik itu tenggelam dalam gerimis yang lembut serta perasaan tak tentu darinya.

            “Sebentar lagi malam...” –Gumamnya saat ia melewatiku.

***

            “Barangkali yang kuperlukan hanyalah sedikit jalan-jalan.”—Kepalanya mungkin masih terasa pusing untuk mengingat. Matanya merah ketika aku menatap refleksinya wajahnya di salah satu etalase toko alat memancing, rambutnya acak-acakan dan baju yang lusuh hanya ditutup sekenanya saja dengan jaket. Aku menghentikan langkahku ketika ia berhenti untuk memperhatikan seorang wanita tua gendut dengan daster dan topi mandi yang lucu sedang sibuk menggerutu dan menggunting beberapa daun dari tangkai mawar-mawar. Kutengok kanan dan kiri seolah aku merasakan sesuatu yang asing, seolah ingin meyakinkan diriku sendiri. Mungkin ia akan mampir. Mungkin juga tidak, ia meneruskan berjalan. Matahari begitu terik.

Sesekali wanita itu memandang langit dengan cara yang aneh memang. Dia mengintip matahari dari ujung topi mandinya sambil sesekali mengernyit. Dia mengintip matahari seperti sedang mengintip sesuatu yang digantungkannya di kaki langit dan dia seperti sedang bersiap menangkap apapun itu jika sewaktu-waktu jatuh. Atau seolah dia seperti merasa sedang diawasi? Dan sekarang dia sedang mengawasi balik orang yang mengawasinya. 

            Aku bersandar saat ia mengusap peluh. Lalu-lalang manusia yang tergesa-gesa, mobil yang berbaris dan raungan bis kota mengepulkan asap hitam seperti mengusiknya. Di seberang jalan, aku melihat sebuah toko arloji saat memandang arloji miliknya sendiri.

            “Mungkin belum terlambat untuk sedikit persiapan misa. Ah! dan sebuah bunga, tentu saja!” –Katanya dalam hati. Kemudian ia seperti mendapatkan keyakinanku kembali, aku meneruskan mengikuti langkahnya—berputar kembali—ke arah wanita tua gendut tadi.

            “Permisi, apa bunga-bunga ini dijual?” 

            “Ya, sebenarnya ini hanya hobiku, Nak” –Suara wanita tua itu ternyata tak sekasar penampilannya, fikirku.

            “Tapi jika itu bisa menghasilkan uang, kenapa tidak kita coba? Tapi awas, jangan sampai kau terlalu mencintai bunga-bunga”

            Wanita itu tertawa dengan suaranya yang aneh. Seperti cuitan dari teko yang mendidih. Dan entah mengapa ia juga ikut tertawa meski aku dan ia sama-sama telah tahu jika itu bukanlah sebuah lelucon. Ia menyeka airmata dari sudut matanya karena terlalu keras dan terlalu lama tertawa, tiba-tiba hening datang menyergapnya. Aku melihatnya yang seketika terdiam. Aku tersenyum sendiri saat ia merasa tak enak sementara wanita tua itu menatapnya dengan bingung.

            “Kau tidak apa-apa, Nak?”

            “Tidak apa-apa, maaf aku tertawa begitu keras” –Ia merasa sangat tidak sopan telah menertawakan kehidupan yang tidak seharusnya ku tertawakan. “Tapi terkadang jika kenyataan begitu sulit diterima, dengan menertawakannya saja sudah lebih dari cukup bukan?”–Setidaknya aku berusaha mencari pembenaran dalam hati.

            “Bibi menjual bunga dafodil?”

            “Maksudmu bakung?”

            “Ya, bakung”

            Wanita tua itu ijin untuk kedalam, meninggalkannya dengan perasaan canggung yang bercampur aduk. Ia merasa seperti telanjang dihadapan wanita yang begitu tegar menertawakan kenyataan, menertawakan nasib. Nasib yang dibuat Tuhan seperti tak berdaya didepannya. 

Sepuluh menit kemudian wanita itu keluar membawa satu buket bunga bakung berwarna kuning yang cantik.

            “Berapa untuk ini?”

            “Bawalah, kebetulan beberapa tangkai masih tersisa di kebunku” –Wanita itu kembali tertawa, ia tidak ikut tertawa kali ini.
            “Tapi, tidak boleh begitu,”


            “Boleh, bawalah dan buat harimu dan wanitamu cerah, besok adalah hari penting.”

            Aku tak peduli. Ia kembali merasa malu. Diterimanya buket bunga itu dengan bimbang dan terus menundukkan kepala.

Mencerahkan hariku dan wanitaku, eh?”—Ia ingin menanyakan tentang itu kepada wanita tua penjual bunga itu, namun tertahan begitu saja dalam hati ketika perlahan dirasakan jika bahunya sudah kebas oleh tetesan gerimis.

            Gerimis turun mengusir matahari, aku pergi meninggalkannya. Tangan kanannya menjepit bunga-bunga itu ke dalam jaket, sementara tanga kirinya  ia masukkan kedalam saku jaket. Semakin ia memaksa berfikir semakin ia akan merasakan sakit kepala yang amat sangat dan membuatnya mual. Sekilas aku menolehnya dari belakang ketika ia teringat dengan ibu, ia teringat dimana saat ibu meninggal aku tak mendengar satu kata penyesalan ataupun pengampunan. Hanya gelak tawa yang begitu menggema dan tersimpan begitu kuatnya dalam dinding-dinding ingatannya. Saat semua ingatan itu berpencar, terasa cairan asam yang membuat tenggorokannya tercekat. Ia nampak benar-benar sudah tidak kuasa menahan rasa mual dan sakit di kepalanya. Dengan sedikit berlari kecil, ia membelok di sebuah gang—aku kembali mengikutinya—dan mengeluarkan seluruh isi perutnya di samping sebuah tempat sampah setengah penuh.

Saat ia mencari saputangan untuk menyeka sisa-sisa cairan pencernaan di mulutnya, ia tak sengaja menemukan selembar kertas di saku jaketnya...

***

            Ia menyukai hal yang rapi dan bersih. Sabtu dirasanya begitu cerah dengan suasana yang cukup tenang di rumahnya—yang berukuran kecil tapi segalanya begitu tertata—ia berdiri cukup lama, menatap kabinet yang tertutup kain hiasan berenda. Tak ada tumpukan pakaian kotor, tak ada sisa-sisa makanan, piring kotor, koran-koran bekas, atau kaleng bir. Ia sangat membenci debu barangkali. Lantainya nampak begitu bersih hingga lampu ruangan itu seperti ada dua, satu tergantung di atas dan satu lagi di bawah.

            Ia mendengus kesal karena tak menemukan sesuatu untuk dibenahi, dibersihkan atau di rapikan maka ia merebahkan tubuhnya ke salah satu dari empat kursi dengan sandaran dan pegangan yang empuk berwana kastanye. Aku mendekat. Ia mengambil salah satu buku yang tertata rapi diatas perapian dan sepertinya telah diurutkannya sedemikian rupa menurut bulannya. Sepertinya ada satu buku yang lebih menyenangkan dibandingkan denganku, buku sesuai dengan bulan ini, sebuah buku catatan yang masih berkilat disampulnya menandakan buku itu belum lama dibelinya. Barangkali masih setengah penuh mengingat bulan ini masih berada pada fase purnamanya.

            Diamatinya deret tulisannya sendiri. Cukup lama dia mengangguk-angguk sendiri sambil terus menelusuri deretan huruf-huruf, angka-angka yang mungkin berisi beberapa catatan tentang daftar belanja, jadwal pertemuan, jadwal piket dan kapan harus lembur. Sepertinya semua kegiatannya telah ada disana dan ia hanya harus mencocokkan segalanya persis seperti yang dikehendakinya. 

            ...pertemuan pukul delapan malam. Minggu: Misa... Membosankan”–Aku membaca tulisannya sekilas, ia menghela nafas dan meletakkan catatan itu kembali. Ia tegakkan duduknya dan memijit pelipis kepalanya beberapa kali. “Ayo kita ke loteng, mencari sesuatu yang mungkin menarik”—Aku berbisik lirih kepadanya. Dan beberapa menit kemudian ia seperti teringat akan sesuatu, ia bergegas mengambil sarung tangan, masker dan beranjak ke loteng rumahnya.

            “Sial...”—Ia terlihat agak risih menyaksikan keadaan lotengnya sendiri. Kotak-kotak barang-barang yang tak diperlukannya—meski terlihat masih cukup rapi—masih berada disana. Ia segera memasang masker dan membersihkan segalanya. Ia memasukkan benda-benda yang tak diinginkannya kedalam kotak-kotak dekat pintu tangga. Satu kotak terakhir dibukanya, satu kotak yang penuh sesak berisi majalah dan kaset pita serta beberapa rekaman album piringan hitam lengkap dengan satu gramofon tua. Aku pergi saat ia membaca tulisan pudar di kotak yang hanya tertulis:

“Ayah...”
 
            Hal berikutnya yang terjadi, ia memecahkan semua cermin yang ada dirumahnya.

***

            “Pergilah anak setan! Kau hanya bisa membawa sial bagi keluarga ini!”—Suara orang tua itu menggelegar memenuhi ruangan. Matanya merah, tubuhnya yang tambun kini basah oleh keringat dan tumbahan wishkey, dari kumisnya menetes keringat dan ludah yang keluar saat ia meneriakkan ucapan kebenciannya. Ditangannya terjuntai ikat pinggang kulit berwarna cokelat. Afis, anaknya sendiri meringkuk dalam tangis dengan baju yang terkoyak di bagian punggungnya.

            Aku ikut terisak dan geram menyaksikan pemandangan mengerikan itu. “Jangan biarkan lelaki biadab itu memperlakukanmu seperti binatang! Bangun dan lawanlah, lelaki lemah!”—Aku berteriak padanya. Ia bergeming. Segalanya berjalan normal dalam keluarganya, sebelum segalanya memburuk saat kepergian Ibu. Sejak itu Ayahnya mulai mabuk-mabukan hingga suatu hari ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai pengacara. Di tahun-tahun awal kematian Ibu, ditangannya tak lepas sebotol minuman dan dia akan duduk diberanda dengan air mata yang menggenang. Ia menyalahkan Afis atas kematian Ibu karena saat Ibu tak sadarkan diri karena penyakit Athritis, Afis sedang asik bermain dengan komputernya. Sebenarnya nyawa Ibu dapat tertolong seandainya ia mengetahuinya.

                “Sebelum aku tertimpa sial seperti Maria, lebih baik aku yang membunuhmu!”—Dan ‘Ctarrr!!!’ suara sabuk kulit melecut dan mengoyak daging di punggung Afis, ia hanya diam. Tak mampu berkata, tak kuasa berteriak. Ia hanya menahan sakit dan menggigit bibirnya hingga berdarah.

                Hal seperti itu menjadi hal yang wajar terjadi di rumahnya. Tetangga-tetangganya sendiri sebenarnya menaruh kasihan kepadanya, dan sesekali memintanya untuk tinggal di rumah mereka. Tapi hal itu ditolaknya dengan halus. Biar bagaimanapun Afis tetap menyayangi ayahnya. Yang terjadi hari itu sebenarnya hanyalah hal yang sepele. Anjing kami memasuki rumah saat Afis tidur dan kibasan ekornya memecahkan foto keluarga yang ada gambar Ibu disana. Ayah yang kaget mendengar suara pecah dan menemukan foto itu tergeletak pecah berserakan langsung berang dan menghajar Afis yang tengah pulas.

                Aku tak tega jika ia terus disiksa seperti ini. Aku berteriak tapi tak ada yang mendengarnya. Hingga akhirnya sewaktu Afis kehilangan kesadarannya setelah tak mampu menahan rasa sakit dan perih yang teramat sangat. Saat itulah aku untuk kali pertama melihat sebuah kesempatan.



                “Akan kusudahi segala penderitaanmu...”






 —psychosick!
Malang,  13 Mei ‘17

Comments

Popular Posts