Prolog: Summertime

Cotton’s high, Lord so high”
-Janis Joplin



            Senja selalu memiliki caranya sendiri untuk mencuri hati siapa saja. Tapi lain bagiku, senja tak lebih seperti keremangan lampu jalan yang menyala sia-sia, kehadirannya hanya membuatku sebal dan lebih menyebalkan lagi dimana orang selalu nampak tersihir dihadapannya. Bagiku hanya orang bodoh yang begitu memujanya bahkan hingga rela mengejarnya kemanapun cuma untuk menyaksikannya tenggelam.
           
           Namun kali ini, cahaya senja mampu meloloskan diri lewat celah-celah korden di jendela kaca, seperti menyelinapkan sebuah perasaan yang asing. Musik mengalun tenang, hanya lengkingan Janis Joplin mengisi kekosongan yang mengusik. Beberapa kali saja terdengar syair Summertime, time, time yang berulang-ulang. Aku terjaga pada sebuah percakapan lirih yang memuat satu hingga dua anggukan semacam kesepakatan tanpa banyak yang perlu diperdebatkan. Kemudian perasaan hening tiba menyela sejenak. Kupasang kacamata setelah menggosok mataku beberapa kali; aku kembali meneruskan menulis. Aku menulis sebuah surat, tentang kabar dari jauh untuk seseorang yang jauh.

           “Aku mengingatnya, dan entah kapan masih akan tetap mengingat sepenuh apapun tentangnya sebisa yang mampu kuingat. Bagaimana caranya memandang langit, memandang awan yang perlahan berarak pergi, kau tahu?”.

“Tentu saja aku mengingat matanya, mata yang sayu namun tegas menatap dalam kedalam mataku ketika aku menatapnya. Mata yang selalu mencuri pandang ke arah langit dengan satu sentakan kepala yang anggun. Seakan ada yang ia gantungkan diatas sana dan hendak bersiap ketika tiba suatu saat apapun itu akan jatuh; dan ia tak pernah tahu. Sesuatu yang terus diintainya tanpa pernah mau menjelaskannya”

            “Aku akan menceritakan segalanya kepadamu” –Ya, niat itu aku ucapkan lirih dalam hati seakan takut ada yang akan mendengarnya.

            Aku masih mengetik, beberapa paragraf lagi kebawah barangkali, tapi aku merasa ada yang janggal. Aku mendongakkan kepala. Mengangkat bahuku dan kau hanya menatap dengan pandangan kosong serta menggeleng. Lalu kuselesaikan kalimatmu dengan terburu sebelum kau menyudahinya. Aku tak tahu maksudmu meski telah lelah aku mendengarnya berulang kali. Mungkin aku bisa saja tahu, andai kau beranjak dari dudukmu di sudut itu. Atau duduklah tanpa menyilangkan kakimu. Mungkin aku takut.

            Cahaya senja semakin mewarnai ruangan. Ingatanku terbawa pada suasana pantai yang sepi dan kosong. Angin, pulau-pulau kecil yang berpunuk-punuk di kejauhan, pasir yang hangat, sebuah nama dan beberapa hal yang kita kejar nampak menjauh di cakrawala yang remang, dan pasir yang ia genggam terus terlepas perlahan meski tanganku telah menelungkupi lembut jemarinya. Ia menitikkan air mata untuk sebuah pertemuan, tapi mengapa? –Kufikir ia telah mendapatkan apa-apa yang setidaknya pernah menjadi keinginannya sekarang.

             Kau beranjak dan mengusir sepi yang merayap masuk melalui celah kunci yang sempit. Sesaat aku berfikir untuk apa sebenarnya kutulis surat ini.

            “Kapan kita dapat bertemu?” –Aku tidak benar-benar jauh darinya. Kau tahu maksudku, bukan? Aku tahu dimana ia sekarang berada. Dan seketika kemungkinan-kemungkinan yang berdesak dalam kepalaku mulai menjadi sebuah kepingan ingatan yang berjalan. Segala kemungkinan akan dirinya muncul dan memutar begitu saja tanpa kuminta. “Barangkali, kau sedang berjalan ditepi sebuah pantai, bertelanjang kaki dan membiarkan pasir-pasir hangat itu menelusup ke sela-sela jari kakimu” –Kau tahu disini tak ada apapun, kasur empuk, hanya beberapa kopi dari album usang itu saja yang mampu membuatmu menari dalam hening, bukan?

            “Disini tak ada basa-basi menjemukan yang selalu kulakukan, dulu”—Aku kembali mengetik, dan kau mengelap lantai yang ternoda oleh tumpahan kopiku yang kini sudah kering. Aku baru saja ingin memberitahunya tentang beberapa tahun lalu, tak lama setelah sebuah surat memaksaku pindah ke tempatku yang baru, aku bertemu denganmu kembali secara persis seperti bagaimana aku bertemu dengannya. “Atau mungkin ia sudah tahu?” –Kau hanya mengangkat bahu. Dan matamu mencuri pandang keluar jendela, ke arah langit. Mengapa kau lakukan itu?

            “Kamu tahu maksudku, bukan?”
            
Dan kau masih disana, duduk dengan kaki menyilang. Memegang secangkir kopi. Sesekali kau tersenyum kepadaku dan akupun memiliki pertanyaan. Apa yang paling membuatmu merasa lebih sempurna dengan mengancamku lewat senyuman-senyuman? –Dan kau masih fasih mengeja nama-nama untuk kutulis dalam suratku kepadanya, yang serupa huruf-huruf yang ada pada namaku.

            Sebelumnya sudah berhari-hari kuhabiskan tanpa melakukan apapun. Suasana begitu ganjil dengan obrolan singkat tanpa perlu dibalas. Pintu kamar dan jendela nyaris selalu tertutup sepanjang waktu. Aku hanya akan duduk membelakangi jendela, mengisi ulang cangkir kopi dan kembali duduk memandangi pintu. Aku selalu berharap kau akan datang sebelum ini dan mengetuk pintu itu pagi sekali. Aku kehabisan tisu, sementara tisu yang telah kugunakan—yang sebenarnya masih bersih dan layak—berserakan dipojok kamar. Kau lihat pakaian kotor, gelas-gelas kotor bekas kopi yang sebagian pecah. Kau hanya mengangguk dan tersenyum, lalu pergi.

            “Mengapa kau tak pernah datang?”—Aku baik-baik saja, dan kau barangkali juga baik-baik saja, bukan? Kau tersenyum lagi. Mungkin kali ini sedikit ada perasaan getir. Kau ini sebenarnya tersenyum pada siapa?

            Aku berharap perpisahan dengannya tidak benar-benar pernah terjadi, kau tahu. Tapi aku juga tidak akan berharap lebih pada pertemuan kedua yang harus kuulangi entah dengan cara yang sama atau tidak. Bertahun-tahun telah kuhabiskan untuk sebisa mungkin tidak mengingat apa-apa tentangnya. Tapi—seperti kau tahu—bahkan suara dentingan sendok jatuhpun akan mampu membawa ingatanku kembali padanya; Dan setelahnya aku tak lagi menggunakan sendok. Kau tentu masih ingat, betapa ia sangat membenci kopi? Baginya kopi seperti hening yang memabukkan. Entah apa yang akan dilakukannya saat tahu gelas-gelas kopi berserakan begitu saja. Betapa ingatan manusia seperti kita begitu rentan terpicu oeh hal-hal yang sepele. Betapa murah harga yang harus kita bayar untuk sebuah kenangan, dimana waktu dengan segala ketidaktepatannya akan datang tiba-tiba dan memaksa kita untuk memuntahkan kembali segala kenangan yang terbeli.

            Aku tersenyum, puas meski hanya mengingatnya. Aku menyangga kepalaku dengan kedua tanganku, aku mendengar langkah kakimu. Kemudian aku teringat pada surat yang belum kuselesaikan dan melanjutkannya. Ingatan berikutnya membawaku kembali pada pertemuan yang sebenarnya tak kuharapkan apapun. Begitu cepat aku terhubung sebegitunya dengan ia yang baru kukenal. Begitu lekat ingatanku merekam setiap sudut pantai yang kosong namun penuh akan rasa yang asing. “Aku bersuamu, ketika kamu menyuaku”—Aku menghentikan tulisanku. Betapa dengan tiba-tiba, dia sudah begitu fasih menyusun huruf-hurufku?

            Ia datang merengkuhku jauh memasuki duniaku, bukan dunianya. Ia bukan dari sini dan mungkin tak ditakdirkan disini. Tapi mengapa kau juga diam saja menyaksikannya masuk begitu jauh kedalam kekosongan ini? Ya, aku tahu kau akan mengatakan hal yang sama. Bahwa di ruangan ini, perasaan kasih memang lebih mengambil bagian daripada kesadaran, bukan? Aku jatuh dalam pelukannya yang entah sampai sekarang ketika aku menatap telapak tanganku, masih seperti terasa kebas, aku masih dapat merasakan aku memeluknya setiap kali aku mengingat segala tentangnya, tentang pantai. Kau mengijinkan itu.

            Tanganku kaku, tapi aku puas telah berhasil menceritakan tentang ia kepadamu. Juga telah berhasil menuliskan kabar kepadanya yang jauh. Kulihat kau menghampiriku dan membaca sekilas surat di tanganku. Kau mengangguk kecil, kemudian menuliskan sesuatu di sesobek kertas dan lantas menggenggamkannya padaku begitu saja. Kemudian kau pergi.

            “Akankah kau kembali?”—Kau berhenti tepat di pintu, menoleh dan tersenyum padaku. Aku tercekat, apakah ini sebuah perpisahan. Tapi bisakah aku berpisah denganmu?

            Aku hanya menyaksikanmu berlalu begitu saja. Memang, sudah biasa kau datang mengetuk pintu atau masuk sesuka hatimu tanpa permisi untuk kemudian pergi. Namun mengapa kali ini kau menyempatkan tersenyum padaku sebelum menutup pintu itu? Masih kugenggam sesobek kertas yang kau tinggalkan, hanya berisi susunan huruf yang tertata; “Tak bosan-bosan aku mencintaimu, aku meyakinkanmu sampai waktuku.”

            Aku menahan sebuah rasa yang menekan dadaku, aku tahu ini saatnya. Kenapa sekarang? Dudukku merosot, aku merasakan begitu kehilangan dalam kekosongan yang biasa. Aku memandang bergantian pada surat yang kuselesaikan dan berpaling pada tulisanmu. Tidak-kah kau sadari betapa susunan huruf-huruf yang kita susun begitu sama, persis barangkali.

            “Aku menunggumu, sekian lama akan selalu menunggumu meski kuakui aku tak pernah mengaharapkanmu.” –Aku mencari air apapun yang bisa kuminum untuk mengusir rasa kering yang tiba-tiba mencekik. Aku memandang cahaya senja yang tadi begitu congkak memantul pada dinding-dinding kusam yang kosong. Kini semuanya telah pergi, kekosongan kembali menyelimuti ruangan. Rasa asing itu telah pergi bersama dengan suara langkahmu dibalik pintu dan senyumanmu.

            Kugulung surat ditanganku itu, melipatnya dan menuliskan sesuatu: “Sekian lama aku akan selalu menunggu sesuatu yang kau sendiri tak tau apalagi yang masih pantas untuk kita tunggu.” –Dan sebelum itu semakin jelas, aku berharap kau akan tersenyum dan berkata “Akan kuakhiri penantianmu itu.”

            Cahaya meremang, senja pudar dan matahari meregang. Aku menatap perasaan kehilangan itu. Lewat jendela, kelap-kelip lampu berwarna cukup untuk sedikit menghiburku. Terdengar sebuah suara lirih dalam ingatanku, aku menikmatinya. “Pertama, yang akan kau fikirkan kehilangan hanyalah rasa kosong.” –Aku mendengarkan gema suara itu dan memejamkan mata, aku melayang dalam kegelapan, aku merengkuhmu dalam angan.

Kudengar gerendel pintu dan suara gembok terbuka dari luar. Siapapun yang masuk, aku telah siap. Aku membaca surat itu untuk terakhir kalinya dan terjatuh begitu saja saat aku kembali memejamkan mata, kepalaku menengadah dan tersenyum. Angin malam menghembus menyibak rambutku. Tanganku terentang lebar dan berayun seperti kelepak merpati yang melesat diantara kebiruan langit.

            “Kamu masih seorang pemimpi yang teguh” –Sementara aku? Seandainya kamu tahu...



"...You're gonna spread your wings, child
And take, take to the sky..."






—psychosick! 
Pasar Kembang, 1 Mei '17

Comments

Popular Posts