Happy Father's Day
Dear Dad,
Can you see me now? I am myself like you somehow
I'll wait up in the dark, for you to speak to me
I'll hold the pain, release me. . .
Can you see me now? I am myself like you somehow
I'll wait up in the dark, for you to speak to me
I'll hold the pain, release me. . .
Ayah, dia
adalah sosok pahlawan kedua setelah Ibu bagi kita, dia adalah seorang idola
kita saat seseorang mengajukan pertanyaan “siapakah
idolamu, nak?” untuk pertama kalinya dalam hidup, dia adalah teman saat kita
merasa berbeda dari teman, dia adalah pelindung, dan bahkan kita akan
menganggapnya musuh ketika dia mengkoreksi kesalahan kita dengan caranya. Tapi,
apakah semua ayah akan bersikap seperti itu terhadap anak-anaknya?
Untukku
pribadi, aku tidak begitu mengenal bagaimana sesungguhnya “Ayah” yang kumiliki.
Kami hampir tidak memiliki satu waktu berkualitas, seingatku, dia tidak pernah
ada ketika aku membutuhkannya. Hampir tidak kutemukan lagi alasan untuk tetap
menganggapnya sebagai ayahku, tapi, seakan aku seekor ikan yang tidak terima di
lahirkan mejadi ikan oleh orang tua ikan, hal itu tidaklah mungkin. Terlepas
apapun kekurangannya, akan tetap ku panggil dia sebagai ayahku.
Sosok
tua berambut tipis, bertubuh tambun dengan kumis tebal bergelayut tepat di
bawah cuping hidungnya, ya, itu adalah sebuah gambaran tentang bagaimana rupa
ayahku. terakhir kami bertemu, berbicara untuk sekedar mencairkan kebisuan
diantara kami terjadi kurang lebih 1 bulan lalu. Aku ingat pertemuan
sebelumnya, ketika itu aku ungkapkan segala perasaanku tentangnya, bagaimana
kekecewaanku terhadap sikapnya selama ini, kecemburuanku terhadap anak lain
yang memiliki hubungan baik dengan ayahnya. Hingga di akhir kata-kata yang
tidak sepantasnya kuucapkan untuk orang yang lebih tua, terlebih terhadap
ayahku sendiri, ku lihat air mata menetes dari wajahnya, membasahi pipinya. Dia
bangkit, dan memelukku.
Ayah,
salah kalau anakmu ini berharap memiliki seorang ayah yang sesungguhnya? jika
memang itu salah, berarti ayah juga salah ketika memintaku untuk mendapat nilai
terbaik di kelas, aku tidak menyesal telah menjadi anakmu, yah, tapi jika orang tua boleh malu
atas kelakuan anaknya, kecewa terhadap anaknya yang tidak memberi apa yang di
harapkan orang tuanya, seharusnya hal ini juga berlaku kepada anak-anak yang
merasa tidak mendapat kasih sayang orang tua nya.
Ayah,
hubungan kita memang jauh dari kata baik-baik saja, tetapi saat kita bertemu,
kau masih memangilku “nak”, aku pun masih memanggilmu ayah. Aku tau kau
menyayangiku, tapi bagiku, ayah, caramu dalam mengungkapkan rasa sayangmu ini
salah. Aku bukan anak baik, aku selalu menentang perintahmu walau aku tahu itu
baik bagiku, aku bahkan menganggapmu musuh walalupun yang kau coba lakukan
adalah untuk menjagaku.
Mungkin
sudah terlambat untuk semuanya, aku sudah terlanjur besar, terlalu keras kepala
hingga berani berbicara dengan nada yang lebih tinggi kepadamu. Tuhan akan menjagamu
di kesendirianmu, Ayah. Aku memang tidak memiliki ayah yang sempurna, tidak
merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah sesungguhnya, dan aku tidak
menyesali itu.
Maafkan aku ayah, yang tak bisa
menjagamu, semuanya telah berlalu, hanya bayangmu yang masih ada di hatiku,
maaf jika aku hanya bisa menuntut sesuatu darimu tanpa menghiraukan nasehatmu
untuk kebaikanku, maaf karena aku belum bisa cukup membanggakanmu untuk berkata
”dia anakku!”.
Selamat Hari Ayah, semoga Tuhan menjadikanmu ayah yang lebih baik saat
kita kembali bersama sebagai keluarga di Surga nanti,
Aku menyayangimu Ayah. . .

bersyukurlah, setidaknya masih ada sosok yang kamu panggil 'ayah' :')
ReplyDelete