Malu Aku Menjadi Mahasiswa Kekinian
Akhirnya semua akan kembali pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Sejak awal perjuangan bangsa ini-jauh sebelum kemerdekaan-dalam lubuk hati para bapak bangsa telah tertanam satu ideologi ketika kelak negara ini telah bebas, Merdeka. Mereka telah mencanangkan satu tujuan yang sudah menjadi seperti mimpi yang dimiliki oleh setiap pasang pelupuk mata rakyat ini. Sebuah sistem yang kemudian dianggap sebagai solusi bagi pengorbanan seluruh putera-puteri terbaik bangsa yang dengan tanpa pamrihnya, rela menyetor nyawa di ujung laras senapan Imperialis asing. Sebuah sistem yang kemudian dikenal dengan nama: Demokrasi!
Apa yang kita ketahui tentang Demokrasi? -Pokoknya Demokrasi itu bagus, sesuatu yang layak dan patut untuk diperjuangkan, sesuatu yang mampu menunjang suksesnya pembangunan menuju ke masyarakat yang adil dan makmur.
Saya kira itu sudah cukup. Saya sendiri tak mampu menerangkan apa arti demokrasi. Saya tidak terlatih untuk menjadi juru penerang. Saya khawatir kalau batasan-batasan saya tentang demokrasi disalahgunakan. Apalagi kalau sampai terjadi perbedaan tafsir yang dapat menjadikannya kemudian bertolak belakang. Atau mungkin, karena saya sendiri tidak benar-benar tahu apa arti demokrasi.
Demokrasi, sebuah sistem yang katanya: dari RAKYAT, oleh RAKYAT, dan untuk RAKYAT. Atas nama pembangunan,berusaha menuju masyarakat yang lebih baik. Namun masyarakat komunal atau golongan mana yang terwakilkan oleh demokrasi ini sebetulnya? Belum luntur diingatan kita. Bagaimana segenap lapisan rakyat Bali yang turun menyuarakan aspirasinya ketika menanggapi izin pemanfaatan, termasuk pengalihgunaan Teluk Benoa dari Gubernur Bali saat itu kepada investor swasta PT. Tirta Wahana Bali Internasional yang keluar pada Desember 2012. Sebuah gerakan yang akhirnya mengular melalui kampanye tak kenal lelah dari mereka yang peduli, jika konservasi sepenuhnya tidak bisa dikhianati.
Pengalihgunaan kawasan konservasi strategis di Bali Selatan termasuk wacana reklamasi ini memicu reaksi dan perlawanan dari berbagai pihak. Mulai dari aktivis lingkungan, tokoh agama, masyarakat umum, pegawai pemerintah, musisi dan seniman hingga yang khususnya memiliki porsi tersendiri dan memiliki peran besar untuk menyelsaikan masalah ini: Mahasiswa. Gerakan perlawanan untuk membatalkan Perpres nomor 51 tahun 2014 yang digunakan sebagai landasan hukum wacana reklamasi Teluk Benoa ini terjadi dimana-mana dan dimotori oleh Lembaga Peneliti dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana yang terus mengawal dan mengontrol perkembangan kasus ini. Bekerja sama dengan puluhan desa adat beserta ribuan massa tak lelahnya turun ke jalan. mengenakan atribut serba putih hingga memunculkan berbagai slogan perlawanan "Bali Not For Sale" serta "Bali Tolak Reklamasi" marak ditemui bahkan hingga diluar Bali.
Masalah ini dengan cepat segera menjadi masalah bersama yang sepertinya harus diselesaikan dengan cara bersama pula. Bermunculan berbagai reaksi cepat tanggap dari kalangan mahasiswa khususnya untuk menyikapi kejadian ini. Ditandai dengan maraknya mereka yang pergi ke kampus dengan kaos-kaos "forBali" entah itu sebagai bentuk dukungan atau hanya kepentingan eksistensi semata, dengan petisinya mahasiswa aktivis lingkungan bermunculan. Tapi setidaknya hal itu patut diapresiasi karena mereka masih aware dengan situasi sosial yang terjadi.
Tapi sepertinya realita saat ini dalam menyikapi sebuah perlawanan lambat laun mulai memudar, banyak dari masyarakat indonesia, khususnya mahasiswa merasa malu, dan tidak berani melakukan perlawanan melawan sistem yang zalim, hal ini banyak disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari pudarnya idealisme untuk melakukan tindakan keadilan, adanya degradasi moral, lunturnya nilai dan norma masyarakat, kesibukkan yang menghampiri kaum muda, pemikiran kaum muda yang hanya pada fokus untuk mendapatkan kesuksesan individu, dan banyak hal lainnya.
Sedikit miris dan begitu disayangkan, ketika beberapa bulan ini kerap muncul trending topik entah itu di kolom pencarian twitter hingga media sosial yang lain tentang #JogjaDaruratAgraria. Tentang penggusuran lahan pribadi termasuk tempat tinggal dan sawah-sawah demi pembangunan bandara. Lagi-lagi Jawa Tengah. Bukankah masih basah di kepala kita tentang bagaimana perjuangan Kartini-Kartini Kendeng memprotes pembangunan Pabrik Semen yang akan dibangun diatas wilayah konservasi sumber air? Atau tentang krisis air bersih di lingkungan sekitar Sleman? Lalu tentang konservasi hutan Gunung Slamet yang dirombak untuk dijadikan PLTPB? Kemudian, bagaimana bisa tangisan saudara-saudara kita, rintihan orang tua rekan kita disana tak sampai pada telinga dan mata kita yang katanya mengaku malu jika tidak up to date? Bagaimana bisa kita yang tak bisa lepas 5 menit dari smartphone masing-masing bisa tidak peduli atau bahkan tidak tahu apa yang terjadi tentang nasib tetangga kita? Ya, wacana pembangunan memang lagi hangat-hangatnya dibahas di kalangan mahasiswa sendiri ketika aksi BEM SI tempo hari yang salah sasaran dan terkesan tanpa persiapan. Sebuah ide yang bagus sebenarnya, mengingat peran mahasiswa sebagai pengontrol dan pelantang suara rakyat yang ternyata belum sepenuhnya ditinggalkaln.
Proyek pembangunan ambisius pemerintah kemudian akhir-akhir ini begitu gencar dilaksanakan. Jawa Tengah dieksploitasi habis-habisan. Jogja yang sudah memiliki bandara internasional pun masih dirasa kurang sehingga membutuhkan New Yogyakarta International Airport. Begitu urgent-nya proyek ini hingga pemerintah menutup mata akan keberlangsungan hidup dan terkesan membohongi ribuan petani dan rakyat Kulon progo dan sekitarnya. Melihat hal ini, lalu apakah kita juga akan masih berpura-pura menutup mata terhadap kejadian ini? Hanya sibuk memenuhi feed instagram dengan foto dan quotes, sibuk menjelajah tempat makan yang dibangun kaum kanan disekitar kita, menyibukkan diri dengan perpolitikan kampus demi kepentingan segelintir golongan atau bendera organisasi ekstra saja? Jika iya, mau sampai kapan? Rakyat adalah mereka yang seharusnya kita wakili, yang seharusnya kita bela, yang seharusnya merasakan apa yang kita dapatkan selama kita menjadi mahasiswa dan setelahnya.
Pun begitu dengan aparat kita. Jika atas nama Sapta Marga, Tribrata, Catur Prasetya, atau sumpah serapah lainnya menjadikan para aparat pelindung dan pengayom rakyat berbalik dan melakukan tindakan anarkis demi mengawal proyek pemerintah. Dan kita mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencoba berbagai filter baru instagram daripada berbuat sesuatu yang berguna kepada sesama, lalu pada pundak siapa lagi rakyat akan bersandar, pada keteduhan mana rakyat akan berlindung, dan pada siapa mereka mengadu?
Bukankah sebagaimana aparat memiliki dan diajarkan 11 Asas Kepemimpinan yang diantaranya adalah Ambeg Parama Arta, mampu mendahulukan mana yang harus didahulukan? Jika rakyat sudah habis kepercayan terhadap kalian, masih bisakah kalian petentang-petenteng memikul senapan dan seragam ketika sudah kehilangan fungsinya sebagai pelindung rakyat? Tentang bela negara saya rasa mereka tahu lebih daripada kami, tentang bersikap tanpa mencederai pancasila, tentang apa itu kemanusiaan yang adil dan beradab, demi terwujudnya persatuan Indonesia, dan tentang bagaimana menciptakan keadilan sosial.
Lalu kita, mahasiswa, sudah lupakah tentang apa fungsi kita sebagai agent of change? Apakah itu hanya dianggap sebagai beban saja ketika masa ospek berlangsung? Tidak malukah kita kepada mahasiswa-mahasiswa yang 19tahun lalu mampu menduduki gedung parlemen dan mengalahkan ketidakadilan, menggulingkan pemerintahan yang telah belaku tangan besi dan berkuasa selama 3 dasawarsa lebih?
Solidaritas dan kepekaan sosial kita memang sudah terlampau tumpul. Kita pribadi begitu sibuk mengurusi hal-hal di dunia MAYA yang kita sudah pahami apa arti MAYA sebenarnya. Kita telah begitu menuhankan media, hingga apa saja yang media tawarkan kita makan begitu saja.
Lalu apa yang terlintas di kepala kitaketika nama Munir Said Thalib disebut, nama Marsinah disebut, atau nama Widji Thukul disebut? Perjuangan mereka bukan untuk dikenang saja dan menjadi acara seremonial belaka, saudara, tapi untuk dilanjutkan!
Masyarakat merindukan Marsinah-Marsinah baru, merindukan aktivis -aktivis wanita lainnya yang tak kalah gagah menentang kesewenang-wenangan, yang berani melawan tirani, dan siap merubah ketidaksesuaian.
Masyarakat membutuhkan Munir-Munir baru yang siap di garda depan membela kaum papa, yang gemetar dan marah menyaksikam ketidakadilan, yang rela meninggalkan materi demi terciptanya keadilan sosial.
Masyarakat menginginkan Widji-Widji baru, yang dari goresan penanya mampu menggetarkan kursi dewan, yang lewat tulisannya mampu membikin generasi apatis mulai mempertanyakan keapatisannya, yang lewat deklamasinya walau cadel namun cukup untuk memerahkan telinga para pejabat dan membuat ratusan ribu mahasiswa mengingsingkan lengan jas almamaternya dan berkata serak melalui megaphone untuk berkata: CUKUP terhadap tindakan aparat yang bengis gerhadap rakyat namun lunak kepada koruptor. Apakah kita tidak juga sadar dengan serba naiknya kebutuhan di negara ini, termasuk pendidikan adalah bentuk ketidakadilan? Apakah kita tidak sadar ketika kita mampu berswafoto ria dan tersenyum dan merasakan titik kebahagian produk kapitalisme yang kita nikmati saat ini, berarti kita telah mengkhianati dan menindas kaum miskin dan rakyat kecil seperti petani dan buruh?
Kalau kemilau teknologi dan kemudahan informasi telah membutakan kita, sehingga membuat kita lupa akan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa. Adakalanya bagi kita untuk kembali merenungi sebuah kutipan dari Pejuang Bangsa yang dilupakan.
"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali"
- Tan Malaka
A Tri H Pamuji
Sumber:
Situmorang, Abdul Wahab. 2013. Gerakan Sosial: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prasetyo, Eko. 2017. Bergeraklah Mahasiswa. Malang: Intrans Publishing.
Mirsel, Robert. 2004. Teori Pergerakan Sosial. Yogyakarta: Resist Book.

Comments
Post a Comment