Mengantar Sebuah Pengantar: Tubuh
Sebelum saya memulai tulisan ini, adakalanya saya memang harus mulai untuk rajin bersyukur lebih dulu. Ketika membuka dan membaca pemberitahuan twitter yang masuk ke layar gawai hari lalu dari karib saya, jantung ini berdegup gugup; takut, kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres. Saya kira karib saya akan membalas tulisan saya dengan tuntutan klarifikasi, diikuti dengan keharusan saya untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka. Saya kira akan lebih mengerikan lagi jika karib saya sampai hati membawa delapan ratus laskar jihad untuk datang dan mengepung rumah saya. Syukurlah, tulisan saya ternyata dibalas dengan tulisan, menandakan akal sehat masih menguasai diri kami.
Berkaca dari balasan karib saya, adalah benar jika ia merupakan orang yang segan, terlebih pada pernyataan bahwa ia mau-mau saja dikalahkan. Saya kira karib saya berkata semacam itu karena mungkin sudah terlampau lelah saya kalahkan meskipun tidak ada kompetisi. Tetapi kekalahan bagi karib saya dan kemenangan bagi saya memiliki arti yang berkebalikan. Jika mafhumnya orang yang kalah akan resah, gundah, dan gelisah, lain halnya dengan karib saya. Kekalahan baginya adalah sebuah tanda permisi untuk mencaci saya atau siapapun yang menang, dan kemenangan bagi saya atasnya, menjadi sebuah beban; andai ada suatu waktu saya kalah, maka seribu kemenangan seakan tidak lunas untuk membungkam gerilya verbal yang dilancarkan.
Namun, agaknya dalam tulisannya, sepertinya karib saya sedang lupa, pura-pura lupa, atau yang paling sial, ia memang sudah mulai menua. Karib saya itu lupa bahwa ketika ia menyebut nama-nama besar dan keengganannya mengutip mereka—dengan dalih tidak memahami pikirannya, apalagi nongkrong bersama—sebenarnya buah pemikiran mereka itu tidak terlepas dari bagian yang lebih besar; tubuh! Bayangkan jika ada sebuah pikiran yang melayang-layang, sebut saja ia adalah pikiran tentang Marxisme, katakanlah. Bagaimana mungkin kita akan menganggapnya ada dan menjadi suatu bagian dari realitas jika ia tak memiliki tubuh? Paling mungkin, kita hanya akan menyebutnya hantu yang menggentayangi Eropa. Itupun kalau sempat, sebelum ditimpuk atau diciduk barisan pemuda paruh baya berseragam loreng jingga-hitam.
Ketika kita berbicara mengenai hal yang dekat lagi jauh, yakni tubuh, sebenarnya apa yang terkait dalam benak kita tentangnya? Penopang kepala, tempat menempelnya alat indra kita, badan (?), dan begitu seterusnya. Nyatanya, akan muncul banyak hal-hal yang dengan mudah kita asosiasikan dengan tubuh. Baik, itu hanya sepenggal perkenalan kita dengan tubuh. Kemudian, sejauh apa kita mengenal tubuh? Sampai pada titik ini, segala anggapan yang tersampaikan tentang tubuh secara tidak langsung telah memisahkan antara kita dengan tubuh. Itu benar, sebelum kita membaca ulang pertanyaan saya di atas, pernahkah kita menyadari kehadiran tubuh kita? Bagi Maurice Merleau-Ponty, tubuh yang kita hayati adalah ambigu, ia menempati posisi sebagai objek sekaligus subjek. Kita tidak memahami tubuh kita, bahkan tidak menyadari kehadiran dari tubuh, sebelum salah satu dari tubuh kita mengalami gangguan. Dalam hal ini, salah satu gangguan bagi kesadaran kita sebagai makhluk yang ‘mengada’, mungkin adalah ketelanjangan.
Tubuh yang telanjang. Ketelanjangan tidak selalu berarti kenikmatan dan nafsu birahi. Kristus di tiang salib, St. Sebastian yang tertembus anak-anak panah, Hypatia yang diarak dan mati karena ilmu pengetahuan, Lilith dan ular yang melingkarinya dalam lukisan John Collier, atau mayat Jane Doe yang tergeletak pucat di meja bedah—semua itu memberi kita ketelanjangan tubuh, tapi ketelanjangan yang menggentarkan.
Rasa rindu-dendam kita akan ketelanjangan mungkin justru dibentuk-gerakkan oleh tata norma susila dan norma agama. Namun, apa sesungguhnya tubuh yang harus dilindungi dan tersembunyi di balik segenap pakaian dan cadar itu? Tubuh yang kuat—ataukah tubuh yang rapuh? Tubuh yang bersih—ataukah tubuh yang degil? Norma, yang bermaksud melampaui sang raga untuk menonjolkan sang jiwa, alih-alih hanya membuat mata menjadi mata-mata belaka. Mata-mata yang terus mencari tubuh dalam bentuknya yang paling dangkal. Saya menyebutnya ‘mata-mata’, karena sang mata terus mencari apa yang terlarang. Ia tak lagi dapat melihat tubuh dengan wajar. Dan saya percaya, ia tak pernah dewasa. Ia terus menjadi pengintip di satu pihak, dan penindas di pihak lain. Bersua dengan komodifikasi tubuh perempuan dalam media dan budaya massa dan—selanjutnya—eksploitasi, maka sempurnalah peran ganda itu. Sebentuk norma yang mengikat, memandang ketelanjangan adalah dosa, memandang tubuh sebagaimana tubuh yang hadir dalam kefanaan dunia seolah menjadi lonceng neraka. Norma, yang malah membuat si mata-mata ini semakin berwatak kanak-kanak; semakin lihai dan nekat mencari barang larangan.
Barangkali saya dan karib saya—kita semua, tanpa kecuali—sudah berlaku sebagai mata-mata tersebut. Kita melihat tubuh dengan rasa curiga, bukan dengan keingintahuan. Sesuka hati, kita mendurhakakan ketelanjangan tubuh, sekaligus mengeksploitasinya—dan dengan itu kita tak lagi melihat tubuh dalam keseluruhannya, kehayatannya. Memandang tubuh yang melekat dari diri kita sebagai sesuatu yang lain, lantas bagaimana kita memandang mereka yang liyan—yang ditekan zaman, disingkirkan kekuasaan, dipinggirkan keberadaannya, yang dihapus dari sejarahnya? Jangan terlalu dipirkan, toh, memikirkan hal semacam itu dan membaca tulisan saya tidak berkontribusi apa-apa terhadap negara. Bukan begitu, Bu?
Nah, sekarang, saya sedang membayangkan karib saya itu tengah membaca tulisan ini sebagai orang yang kalah—yang akan saya bayangkan seperti ini: ia akan berada di selasar rumah, kedua tangan di gendongan belakang, dengan tubuh sedikit membungkuk, kemudian kepala yang celingukan ke kiri dan kanan, seolah kebingungan mencari suatu hal. Jika sudah seperti itu, maka saya telah mafhum, ia sedang menunggu seseorang untuk bertanya. Saya tidak akan bertanya karena jelas, karib saya sedang mencari ikan tongkol.
Siapa yang tahu nasib waktu, kan?

wes gak nulis maneh a?
ReplyDelete