Mengantar: Tentang Sebuah Pengantar
Saya adalah seseorang yang sangat pemarah, tidak mau dikalahkan, dan pribadi yang kompetitif, sekalipun di sana tidak ada kompetisi, pun begitu dalam hal ketercapaian. Maka ketika saya melihat arus linimasa twitter beberapa bulan terakhir, hal yang selalu menyita perhatian saya, berapapun milidetik waktu yang dibutuhkan, atensi saya selalu mengarah kepada suatu akun antah-berantah milik karib saya, @rulyananta. Tidak ada yang menarik di sana sebenarnya. Tetapi pola yang saya amati adalah jelas, orang ini, beberapa waktu terakhir, sering menuliskan apapun dalam jurnal daring pribadi miliknya-yang baru beberapa saat lalu saya sadari jika jurnal daring milik kami ternyata memiliki penataletakan yang sama!
Semua
sangat biasa, seseorang menulis dalam jurnalnya, apa yang istimewa? Seperti apa
yang telah saya sampaikan di atas, bahwa saya adalah seseorang yang tidak ingin
dikalahkan,—siapapun tidak ingin menjadi kalah—pribadi yang kompetitif. Maka dalam
hal ini, saya pun seharusnya tak mau kalah. Ini mutlak, saya tak boleh kalah! Dan
seperti yang bisa dilihat, jujur saja, tulisan ini adalah bentuk rasa tidak
terima saya. Tetapi jauh daripada itu, ada hal lain yang perlu saya cermati, karena
segala terang adalah baik, maka perlu dipisahkan antara terang dengan gelap[1].
Tidak
ada yang salah dengan apa yang dilakukan karib saya, saudara lain Ayah lain Ibu
yang tumbuh bersama dalam tempaan masa. Justru saya semestinya berterima kasih,
dan memang itu yang akan saya tujukan (nanti, jika saya ingat!). Karena dari rasa
tidak terima saya yang lahir dari tulisan-tulisannya yang terus mengalir,
bahkan di saat-saat yang tidak menentu ini, telah menjadi semacam tamparan keras
di muka saya. Sebab, saya masih meyakini sungguh, apa yang pernah disampaikan
dosen saya di tahun ketiga; scribo ergo sum—aku menulis maka aku ada. Bukan
maksud saya untuk mengekor, melakukan apa yang sudah dan telah dilakukan orang
lain. Tentu tidak. Saya membenci pribadi yang tidak orisinal, lebih dari itu,
peryataan sebelumnya yang menjadi titik tolak alas an saya menulis ini. Hal yang
saya sampaikan di awal hanya sebagai pemanis.
Bagaimana
seseorang dapat ‘mengada’ di tengah kehidupan yang serba tidak dapat diprediksi
ini? Kehadiran kita di tengah semesta ada di luar kuasa kita itu benar. Dan jika
saya memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang sama, maka cara bagi
saya ada dua; membaca dan menulis. Kemudian di mana letak aktivitas nalar? Bagi
saya, kegiatan itu berada dalam dimensi lain; berseberangan dalam realitas,
namun bersentuhan dalam semua gejala interaksi. Maka apa yang saya saluti dari
tulisan dalam jurnal daring pribadi karib
saya adalah keteguhannya dalam menyajikan hasil pemikirannya sendiri, yang
kemudian ia tata sedemikian rupa, sehingga kita sebagai pribadi lain yang
berkesadaran dapat membacanya.
Berpikir,
adalah suatu proses yang rumit. Saya dapat katakan begitu karena jika kita
merunut gerak waktu dan memutarnya 180 derajat, kita akan melihat bagaimana
usaha para pemikir untuk merumuskan kegiatan yang mereka pahami benar. Kembali ke
masa sekarang kita hidup, sebuah keharusan seolah memaksa kita untuk berpikir-di-luar-arus-massa,
berpikir antimainstream. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana? Mari kita
garis bawahi kata ‘kritis’ di sana. Dalam frana ‘berpikir kritis’, kritis tentu
tidak menjadikannya sebagai sebuah aktivitas untuk mengkritik segala sesuatu
dengan membabi buta. Seseorang yang hidup di Konigsberg, Kekasaran Prusia, pada
abad ke-18 telah sedikit banyak menyampaikan, sikap kritis adalah sebuah
keadaan di mana seseorang mampu dan memiliki keberanian untuk berpikir sendiri.
Lucunya, hal ini sering disalahartikan! Berpikir kritis adalah berpikir dengan
sikap kritis, maka menganggap keberanian untuk berpikir sendiri dengan atau
tanpa menggunakan hasil pemikiran terdahulu adalah sebuah kesalahan. Jika ingin
menguliti tulisan-tulisan dalam jurnal
daring pribadi karib saya, sebenarnya akan dapat ditemukan dari mana konstruksi
pemikiran yang pada akhirnya mampu membuat karib saya menyimpulkan suatu fenomena
seperti demikian. Tetapi sayang, saya tidak memiliki cukup banyak waktu.
Tentu
saja, aktivitas berpikir kritis tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tradisi
pemikiran. Seorang Marx mungkin tidak akan menjadi siapa-siapa jika tidak ada Smith
yang menulis Wealth of Nations, tidak ada Nietzsche tanpa Hegel, tidak
ada Hegel tanpa Kant, tidak ada Kant tanpa Descartes—begitu seterusnya. Seseorang
tidak akan mungkin berpikir secara mandiri jika ia tidak pernah memelajari
pemikiran orang-orang sebelumnya. Jika—andaikan—ia memang memelajari pemikiran
orang-orang sebelum dirinya, maka garis ppemikiran itu akan nampak dari
tulisannya. Berpikir sendiri—seperti maksud Kant—jelas tidak lahir begitu saja
dari ruang hampa.
Sialnya, hal yang justru berkebalikanlah yang selama ini terjadi dalam tradisi di ruang-ruang akademik. Kita dipaksa (baca: terpaksa) menyandarkan argumen yang anggap saja lahir dari aktivitas berpikir kritis kita pada sertaan kutipan serta catutan nama-nama besar dengan karya-karya adiluhung itu. Seolah pendapat kita sama sekali tidak memiliki nilai. Sekalipun hanya pendapat perkara patah hati, kita merasa perlu mengaitkan seorang Kierkegaard dengan kisah tragisnya. Sungguh, saya marah. Maka menjelang akhir dari tulisan ini, saya akan menganggap ini semua, secara utuh dan keseluruhannya, adalah sebagai pengantar dari kesia-siaan waktu saya di kemudian hari untuk menuliskan perspektif lain dari fenomena-fenomena yang terjadi, karena sia-sia adalah manusia yang tidak berpikir dan hanya mengais sisa-sisa.
Dan sungguh, adakah kesia-siaan lain yang lebih pedih ketimbang manusia yang menyerah mampus dikoyak-koyak sepi, seperti pada Sajak Sia-Sia milik Chairil Anwar? Kemudian, dengan meminjam kutipan Seno Gumira Ajidarma yang dipacak karib saya, “Aku bisa apapun, termasuk menulis. Aku tidak bisa apapun, kecuali menulis” saya menutup tulisan ini.
Wes gak nulis maneh a?
ReplyDelete