Layang-Layang: Perang Sipil di Atas Langit
24 Agustus lalu, satu band alternatif dari Wales memperingati hari lahir ke-23 tahun atas karya monumental mereka, sebuah karya yang sempat mendapat gelar dari Guinness World Record dengan label “Single-Hits-Nomor-Satu-dengan-Judul-Terpanjang-Tanpa-Tanda-Kurung” sebagaimana diulas Martin Power dalam Omnibus Press pada Oktober 2010 silam. Manic Street Preachers, mengeluarkan hits mereka berjudul “If You Tolerate This, Your Children Will Be Next”, sebuah lagu hits namun terasa asing bagi Sebagian besar penikmat musik alternatif Indonesia, terutama bagi mereka—termasuk saya dan mungkin Anda—yang berkiblat ke arah Inggris. Tetapi, mari kita kesampingkan barang sejenak semua perbedaan serta perdebatan ihwal preferensi musik yang memang kembali pada personal masing-masing, dan coba untuk berfokus pada pertanyaan utama, “bagaimana bisa sebuah band muncul dan mengeluarkan sebuah karya yang “kurang terkenal”, namun karya tersebut menjadi karya besar nan ikonik?”
Barangkali, bagi penikmat pun pengamat skena musik alternatif arus utama Britania Raya, khususnya Inggris, medio 90-an tidak akan ada yang lebih lekat dalam ingatan jika bukan perihal perselisihan Damon Albarn yang membawa panji Blur dengan Gallagher bersaudara dari kubu Oasis sebagai penerus sah gerakan Madchester. Jika demikian, maka tak heran jika Manic Street Preachers nyaris tak pernah mendapat jatah di halaman muka media, karena selain mereka band luar Inggris, musik-musik tempaan mereka pun sarat muatan politik, tak terkecuali dengan hits utama mereka. Jika kita mencoba menelusur judul tersebut di mesin pencari, maka kemungkinan yang akan kita temukan ada dua; wajah James Dean Bradfield yang tengah berpose dengan nuansa serba dingin, atau sebuah poster yang menampilkan foto seorang anak kecil yang tak lagi bernyawa, lengkap dengan langit yang dipenuhi pesawat pengebom. Temuan kedua inilah yang menjadi akar lahirnya hits tersebut.
Secara sadar, lagu ini diakui oleh Nicky Wire selaku penulis lirik sekaligus bassis dari band tersebut dalam wawancaranya bersama Martin Power, masih untuk Omnibus Press, Oktober 2010. Lagu ini terinspirasi dari idealisme gerakan para volunter Wales yang tergabung dalam International Brigades dan turut andil dalam barisan Republik Spanyol melawan pemberontakan Ultra-Nasionalis fasis pimpinan Fransisco Franco pada Perang Sipil Spanyol, 1936-1939.
Enam puluh tahun sebelum Nicky Wire bersama Manic Street Preachers melahirkan hits monumentalnya, Pablo Picasso sedang menikmati puncak musim dingin yang lesu di kediamannya kala itu di Paris, Rue de Grands Agustin. Dalam biografi yang ditulis Patrick O’Brien, Picasso adalah seorang seniman yang kala itu sangat mendukung gerakan Kemerdekaan Catalunya dan berhubungan erat dengan para aktivisnya[1]. Tidak mengherankan, jika pada Januari 1937, seorang kawan dari kelompok Republik memintanya untuk membuat sebuah mural bagi pavilion Spanyol sebagai wakil dalam even Paris World’s Fair yang dihelat akhir November 1937. Kala itu, Picasso adalah seorang hispanik yang sudah tiga tahun tak pernah menginjak tanah kelahirannya dan juga menjabat sebagai Direktur Kehormatan-dalam-Pengasingan Museum Prado, Spanyol.
Kerja seorang seniman, barangkali serupa dengan seorang fotografer, mereka merekam apa yang mereka cerap melalui inderanya, sebelum kemudian mengekspresikannya ke dalam media apapun sebagai sebuah karya. Picasso, sang maestro itu pun demikian, ia yang tercatat telah tiga tahun meninggalkan Spanyol tanah kelahirannya, kemudian tiba-tiba harus mengekspresikan guratan ingatan dan kenangannya yang nyatanya begitu jauh nan berjarak dengan tanah kelahirannya sendiri. Maka ia pun memulai projek tersebuat dengan sedikit ogah-ogahan, tercatat progres tersebut hanya merupa sketsa kasar yang telantar di pojokan studio kerjanya dari Januari hingga April[2].
Namun menjelang akhir April 1937, suatu sore dengan keheningan yang cukup di kediaman Picasso itu tiba-tiba pecah. Pintu rumahnya diketuk dengan nada tergesa, bertubi-tubi, namun tidak mengesankan sebuah ketukan dari seseorang yang ketakutan. Pintu dibuka, dan ternyata sang penyair, Juan Larrea berdiri di bawah lengkungan pintu dengan wajah sumringah sekaligus menahan ngeri dan getir. 26 April tepatnya, serbuan pasukan Ultra-Nasionalis Jenderal Franco membumihanguskan Guernica, sebuah kota kecil di Provinsi Basque, sisi Utara Spanyol. Hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu detail dari apa yang mereka bicarakan, tetapi poin dari kedatangan Larrea ke kediaman Picasso tidak lain adalah untuk meminta Picasso menjadikan peristiwa pengeboman Guernica sebagai sumber inspirasi untuk karyanya. Pada 1 Mei, Picasso merapikan tumpukan koran di studionya dan menemukan koran kedaluarsa bertanggal 28 April yang ditulis oleh wartawan perang George Steer tentang pernyataan saksi mata peristiwa pengeboman Guernica. Seketika itu Picasso membuang sketsa awalnya, lantas menyiapkan sebuah kanvas berukuran megah, 7,76 meter x 3,49 meter, menuangkan segala kesah dan kisah, menggoreskan perasaan resah, dan menggurat penderitaan serta kesengsaraan para korban perang. Hingga jadi lah Guernica, sebuah masterpiece dari sang maestro lukis yang menjadi simbol anti-perang hingga saat ini.
Guernica dan If You Tolerate This, Your Children Will Be Next, karya monumental lain rupa yang lahir dari muara yang sama. Kesamaan lain antara Nicky Wire dan Picasso adalah mereka berani mengekspresikan segala perasaan tak terkatakan melalui media yang menjadi ruang lingkup kerja dan jiwa mereka; Wire sebagai musisi, menyuarakannya melalui lagu, dan Picasso, seorang pelukis. Peristiwa Perang Sipil di Spanyol mungkin hanyalah satu pinggiran episode dari sebuah peristiwa kolosal bertajuk Perang Dunia Kedua, dan lagi, hal ini menjadi suatu kejadian serta sesuatu yang jauh untuk dijangkau bagi kita yang berada di Indonesia, belahan dunia lain yang tak turut serta di dalamnya. Tetapi refleksi atas hal-hal di atas bisa kita kaitkan dengan isu hantu-hantu yang mewujud guratan-guratan gambar di tembok kota; seni mural jalanan. Beberapa waktu, telah menjadi sebuah bacaan mafhum mengenai laporan “penghilangan paksa” lukisan-lukisan mural yang mayoritas memang berisi kritik atas pemerintah Indonesia. Dari sebuah laporan yang dilakukan kawan-kawan UAPKM Kavling10 terkait “Jalan Terjal Seniman Mural”, tergambar keluh kesah dari para seniman jalanan yang sebenarnya hanya berusaha menyuarakan suara-suara yang selama ini tenggelam diingar-bingar keriuhan kota[3].
Barangkali para kawan-kawan seniman mural, sama halnya dengan Wire maupun Picasso, mereka adalah pekerja seni yang berusaha menuangkan kegelisahannya melalui media apa yang menjadi jiwa mereka. Mereka paham ihwal risiko yang mereka ambil, menyuarakan suara-suara dan kegelisahan komunal yang selama ini tidak mendapatkan perhatian dari otoritas tertentu memang serupa dengan membuat dan menerbangkan layang-layang; mereka membangun, membuat struktur, menyampaikan sesuatu di atas unsur-unsur yang mudah berubah dan melayang jauh. Serupa kertas dan simpul-simpul yang menjadikan sebuah layang-layang terbang, ingatan dan perasaan orang kecil yang tercurah dari karya-karya mereka ternyata turut pula mengundang “layang-layang” lain dari sisi penguasa untuk turut terbang. Bisa jadi berupa festival, saling memperindah dan mengisi langit yang sama, atau mungkin saja serupa perang sipil; mereka tidak saling bersisian mengisi dan menari, tetapi menghabisi. Kita sebagai penikmat pertunjukan layang-layang, suatu waktu harus juga turut menarik benang, membuat lipatan, dan menimbang seimbang kerangka hingga suatu saat kita juga bisa menerbangkan layang-layang sendiri untuk turut bersisian di langit wacana dan narasi.
Suatu karya, apapun bentuk dan maknanya, serupa dengan teks. Teks memiliki keterarahan dalam dirinya sendiri selepas ia dilahirkan oleh penulis. Sebagaimana pandangan fenomenologi mengenai keterlemparan manusia dan historisitas, masa depan teks belum tentu sama dengan yang diharapkan oleh penulis maupun pembaca. Masa depan dari suatu karya bisa jadi berbeda dengan intentio operis dari sang perencana karya. Dan hal ini yang nyata-nyata menjadi pembeda nasib dari karya-karya yang lahir sebelumnya; Nicky Wire dengan lagunya menahbiskan Manic Street Preachers ke puncak tangga lagu Britania Raya[4] dengan penjualan sebanyak empat ratus ribu keping, serta mendapat sertifikat emas dari British Phonographic Industry atas prestasi penjualannya. Pablo Picasso dengan Guernica-nya, menjadi monumen kebebasan kala peringatan kematian Franco pada tahun 70-an sekaligus sebagai simbol gerakan Kemerdekaan Basque, provinsi di mana peristiwa pengeboman Guernica terjadi. Guernica telah menjadi simbol universal yang kuat, sebagai penanda dan peringatan bagi kita terhadap penderitaan dan kehancuran perang. Sementara di lain sisi, karya-karya dari kawan-kawan seniman jalanan harus pupus dan tumpas di tangan aparat pemerintahan.
Ketika langit kota riuh dengan kabel yang malang-melintang, saling silang bersengkarut hingga tak memungkinkan bagi layang-layang siapapun untuk terbang, atau ketika seutas benang yang menyangga layang-layang itu purna dan putus dihantam layang-layang lain, itu sebabnya kita perlu membayangkan layang-layang yang tetap terbang. Serupa elang, kita bayangkan layang-layang itu menari dan terbang tinggi, menari bersisian di atas langit sore yang meremang jingga. Dan barang tentu kita akan menikmatinya, di sebuah kedai kopi, di hadapan mural Guernica sambil merenungi suara James Dean Bradfield yang membawakan bait ketiga dari If You Tolerate This, Your Children Will Be Next; “so, if I can shoot rabbits/then I can shoot fascists…”
Malang, 12 Oktober 2021
[1] O’Brien, Patrick. 1976. Pabro Ruiz Picasso: a Biography. New York: G. P. Putnam’s Sons.
[2] Guernica Remakings. Online. (http://guernicaremakings.com/)
[3] Pinggir Kota: Jalan terjal Seniman Mural. UAPKM Kavling10. video. (https://youtu.be/gFgskGtP7z4)
Comments
Post a Comment