"Said I Loved You… But I Lied" Sebuah Eulogi tentang Sincerity, Authenticity, dan Menyoal Kehilangan yang Dipaksa Mati Berkali-Kali Di Hadapan Spektakel


 

“’cause this is more than love I feel inside.”

(Michael Bolton)

Hari ini (21/1) adalah kulminasi dari apa yang oleh peradaban manusia sebut sebagai “kehilangan” dalam hidup saya. Tetapi bukankah semua entitas dasarnya telah pernah dan akan mengalami sebentuk kehilangan di satu titik pada suatu masa kehidupannya? Setiap kelahiran menuntut adanya kematian, lantas apakah harga yang harus dibayar di balik kehilangan? Yang menarik dari pertanyaan ini adalah sejauh apapun kita menarik dasar arti dari “kehilangan” pun “hilang”, sejauh itu pula kita akan bertemu setidaknya dengan “kerugian”, “kemalangan”, bahkan “kematian” dan sebagainya. Dengan masih menggunakan cara yang sama, ketika kita membalik kata-kata temuan tersebut dengan nuansa yang berpunggungan, maka yang hadir ialah “keuntungan”, “keberuntungan”, bahkan “kehidupan” dan seterusnya. Bukankah ini berarti tanda, sebuah signal yang menyatakan secara implisit bahwa sesungguhnya kita sudah benar-benar “hilang” di tengah kehidupan yang saat ini kita hidupi (baca: jalani; sebab sesungguhnya kita tak pernah benar-benar hidup, kita hanya bertahan hidup dengan merasa menjalani hidup). 

Ketika mengartikan kata “kehilangan” kita tanpa sadar menyandarkan beberapa representasi serupa dan serasa untuk lebih bisa mengerti arti dari “kehilangan”. Namun bukankah apa yang kita lakukan itu secara tidak langsung telah membawa kita berjarak sedemikian jengkal dari apa yang kita maksudkan sedari awal? Saya masih bersepakat bahwa “kehilangan” tidak dapat dialihartikan, dengan maksud untuk menyederhanakan makna atau mempermudah pengertian. “Kehilangan” adalah bagian dari realitas keseharian yang kita hidupi, “kehilangan” adalah sepersekian inti dari hidup itu sendiri. Maka hadirnya “kehilangan” dalam hemat saya juga tak patut diwakilkan sebagaimana hidup yang harus pula untuk dijalani sendiri dengan berdikari. Tetapi apakah kita masih hidup sebagaimana manusia pernah dan telah hidup? Di dalam masyarakat modern, kehidupan tidak lagi dihidupi secara langsung, melainkan dimediasikan melalui hamparan citraan-citraan masif; suatu kehidupan yang dulunya dihidupi secara langsung kini menjadi susutan representasi-representasi belaka. Selamat datang di Society of the Spectacle[1].

Sebelum melanjutkan tulisan ini lebih jauh, alangkah baiknya bagi siapapun yang membaca tulisan ini—malam ini, esok pagi, atau entah—untuk menambahkan tembang ballad berjudul How Am I Supposed To Live Without You dari Laura Branigan guna menjadikan padu kerangka pikiran dan juga logika dari tulisan ini, sekalipun tidak akan membantu banyak. Adalah benar bahwa ihwal ditulisnya tulisan ini adalah murni pengalaman­—langsung—yang saya sebagai penulis alami. Namun sebagaimana setiap entitas telah pernah dan akan mengalami kehilangan, maka tulisan ini adalah cara saya untuk mencoba memberi makna atas kehilangan di luar logika spektakel. 

Saya memilih tembang dari Laura Branigan yang ditulis oleh Doug James dan Michael Bolton secara khusus untuk mencoba membalik sifat asosiatif dari representasi yang dihidupi. Barangkali nyaris tak ada yang tahu bahwa Branigan lah yang pertama kali membawa tembang ini untuk menyambangi setiap telinga pendengarnya pada musim panas 1983, sekalipun Michael Bolton sebagai sang penulis pada akhirnya membawa tembang ini menuju puncak paripurna afirmasi global enam tahun berselang. Alasan lain saya membawa lagu ini untuk menjadi penghantar kita guna mengurai logika spektakel yang diam-diam lindap bekerja mengakumulasikan nilai di balik kemalangan atas setiap “kehilangan” yang kita alami tak lain adalah bagaimana lirikalitas tembang ini merangkum apik ihwal segala yang akan kita bicarakan.  Pertama, mari kita berbicara tentang bagaimana reifikasi memaksa segalanya menjadi komoditas belaka. How am I Supposed to Live Without You versi Michael Bolton mencapai puncak ketenaran ketika ia dirilis dalam album Soul Provider pada tahun 1989 sebagai hits utama dalam urutan tembang keempat, jauh melampaui versi Laura Branigan yang hanya mampu merangkak hingga urutan kedua belas dalam kelompok tangga lagu yang sama. Dari penanda masa yang ada, 1983 menuju 1989, apa yang membuat nuansa yang dibawa tembang ini berbeda dari versi Branigan maupun Bolton selain perbedaan suara pria versus suara wanita? Nyatanya tidak ada. Lalu, apakah jumlah patah hati masyarakat global menurut sensus telah meroket tajam memasuki awal musim panas 1989 ketimbang enam tahun sebelumnya? Saya perkirakan juga tidak demikian. Maka di sini, patah hati dikemas ulang sehingga menjadikannya komoditas yang berbeda sekalipun kontennya adalah sama belaka. 

Kita mungkin sudah galib menemukan sebuah tembang yang saking masyhurnya kemudian membuat orang lain berusaha memberikan versi “uniknya” sendiri masing-masing ke dalam tembang tersebut. Mundur ke belakang sedikit, terdapat satu tembang ikonik—akhir-akhir ini juga memenuhi ruang dengar saya—yang didendangkan oleh suara wanita, kemudian pria hingga tiga versi, dan termutakhir disuarakan lagi oleh wanita. Adalah The First Cut Is The Deepest sebagai tembang yang saya maksud di sini. Kasusnya hampir mirip, tembang ini ditulis oleh seseorang yang kelak akan mengeluarkan versinya sendiri. Ditulis oleh Cat Stevens/Yusuf Islam yang kemudian dipitarekamkan oleh P. P. Arnold sebagai tembang terakhir sisi pertama dalam album The First Lady Of Immediate pada 1968. Akan tetapi pembedanya adalah versi P. P. Arnold yang meraih posisi lebih tinggi sekalipun Stevens/Islam masih mendapat kredit atas kefasihannya sebagai penulis tembang. Lebih lanjut lagi, memasuki medio 1970-an, tembang ini tercatat kembali mengeluarkan dua versi “pria”; pertama, sebagai single oleh Keith Hampshire pada 1973 dan kedua, sebagai track kedua sisi pertama-cepat dari album A Night On The Town milik Rod Stewart. The First Cut Is The Deepest disuarakan kembali oleh “wanita” memasuki milenium baru oleh Sheryl Crows pada 2003. Dari kedua tembang tersebut, terlepas siapa yang menjadi penembangnya, yang menjadi pembeda adalah dalam How Am I Supposed To Live Without You tidak memuat pronouns atau kata ganti orang yang merujuk siapa yang “hilang” dan siapa yang “kehilangan”. Namun kata ganti orang ini muncul dalam The First Cut Is The Deepest. Sehingga ketika kita ikut berdendang, kita mutlak harus memperhatikan versi siapa yang ada di kepala kita dan versi siapa yang tengah diperdengarkan. Memperumit hal sepele menjadi sepanjang ini bukanlah sia-sia, karena jika kita kembali pada maksud tulisan ini saya tuliskan, saya bersikukuh bahwa “kehilangan” nyatanya tak memandang seks dan gender, ia universal dan tetap general. Ini pula yang mendasari pilihan jatuh pada How Am I Supposed To Live Without You alih-alih The First Cut Is The Deepest. 

Sisi universalitas dari “kehilangan” yang diwakilkan dalam How Am I Supposed To Live Without You lebih terasa nyata dan bekerja seolah penyeranta yang menggelitik impuls perasa dalam hati kita untuk turut mengangguk sepaham pada hal yang sama. Persetan entah apakah dia pria atau wanita yang “hilang” dan yang “kehilangan”. “Kehilangan” akan tetap terasa seperti luka dari sayatan-pertama-yang-terdalam­. Maka kita sampai pada pembicaraan ihwal bagaimana tembang ini mampu “mewakilkan kehilangan” hingga kita merasa begitu kecanduan atasnya di tengah kehidupan modern masyarakat spektakel ini. Guy Debord (1931-94) membuka tesis pertama dari 221 tesis dalam risalah alegorik La Societe du Spectacle (1967) dengan “in societies dominated by modern condition of production, life is presented as an immense accumulation of spectaclesEverything that was directly lived has receded into a representation[2].” Kehidupan di tengah masyarakat modern kini dipresentasikan melalui akumulasi spektakel. Segala yang sebelumnya dihidupi melalui pengalaman langsung, kini direduksi menjadi sekadar representasi. Dari argumen ini, membawa kita pada refleksi moderat atas “kehilangan” dengan mengajukan sebuah pertanyaan; apakah pada dasarnya kita SUNGGUH pernah benar-benar mengalami “kehilangan”? Atau itu semua hanya sekadar ilusi representatif dari kehidupan spektakel yang telah kadung berlarat-larat membawa jiwa kita hidup di ambang sekarat? Bolton[3] setidaknya memberi kita kunci pada empat bait verses pertama tembangnya untuk merenungkan pertanyaan ini; I could hardly believe it, when I heard the news today/I had to come and get it straight from you//They said you were leavin', someone's swept your heart away/From the look upon your face, I see it's true. Secara naluriah, apa yang akan kita lakukan ketika realitas subjektif kita berada di ambang kejatuhan, keruntuhan total, keadaan porak-poranda bergelayut di depan mata hanya berdasar pada sebuah berita; representasi belaka? Ibarat luka, “kehilangan” sudah di depan mata tiba, ia hanya tinggal menunggu ada yang terasa. Jika melihat apa yang disampaikan Bolton, kejatuhan datang merupa berita, membawa warta. Bait pertama yang akan bersambung pada bait ketiganya, They said you were leavin', someone's swept your heart away. Bait pertama pada dasarnya adalah apa yang dimaksudkan oleh Debord, disampaikan kembali oleh Bolton melalui suara Branigan dengan I could hardly believe it, when I heard the news today. Datangnya berita adalah satu perkara, dan kebenaran atasnya adalah perkara lain soal. Namun jika melihat kembali ke dalam lirik tembang tersebut, si Aku tak lantas serta-merta menerima kebenaran yang “diwakilkan” melalui sebuah berita. Adakah kebenaran lain di balik berita tersebut, ataukah berita tersebut adalah kebenaran? Ini adalah persoalan spektakel, dan hadirnya berita yang secara semena-mena mengobrak-abrik habis kehidupan si Aku adalah sebuah peristiwa spektakuler. 

Spektakel dipahami sederhana sebagai pembalikan dari kehidupan, sebuah hidup yang digerakkan secara otonom oleh yang-tak-hidup[4]. Datangnya sebuah kabar menjadi disrupsi besar yang memutar-balik kehidupan si Aku. Menariknya adalah ia tak menerima begitu saja kenyataan yang datang merupa berita, lagi-lagi representasi. Maka ia memutuskan untuk setidaknya I had to come and get it straight from you. Kita tidak tahu siapa si Aku dalam tembang tersebut, tapi ada baiknya kita menunda dulu untuk terburu-buru “mewakilkan” diri kita pada kisah si Aku hanya karena pernah dan telah merasa kehilangan. Si Aku merasa ia memerlukan kepastian, dan perlu digarisbawahi bahwa terkadang ada kebenaran yang sebaiknya tidak kita ketahui sebab belum tentu kita siap menerima segala apapun di baliknya maupun setelahnya. Nyatanya hal tersebut tidak berlaku dengan kondisi si Aku dan barangkali inilah pembeda antara kita dengan si Aku. Kebenaran yang diwakilkan harus dipastikan kepada sumber kebenaran yang dimaksudkan dalam keterwakilannya. They said you were leavin', someone's swept your heart away adalah kuncinya. Yang hendak “hilang” adalah si Kau, dan si Aku harus memastikan benar-tidaknya, di titik inilah ia sampai pada muara kebenaran yang sempat tertunda akibat datangnya keterwakilan, sekalipun lagi-lagi adalah merupa parsial; From the look upon your face, I see it's true. Yang perlu kita pertanyakan, apakah air muka si Kau adalah kebenaran yang dimaksudkan? Tentu bukan, ia adalah representasi yang melulu hadir dalam kehidupan si Aku sepanjang setidaknya empat bait satu verse ini. Akhir verses pertama ini menjadi penanda kejatuhan si Aku yang inevitable. Serupa dengan spektakel, ia adalah keniscayaan sebagai konsekuensi logis kehidupan masyarakat kapitalisme mutakhir. 

“The spectacle presents itself as a vast inaccessible reality that can never be questioned. Its sole message is: "What appears is good; what is good appears. The passive acceptance it demands is already effectively imposed by its monopoly of appearances, its manner of appearing without allowing any reply[5].” Spektakel menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan adanya pertanyaan atas keberadaannya sebagai sesuatu yang telah mengindera[6]. Andaikan sekalipun ada celah yang bisa dipertanyakan atasnya, spektakel menampakkan diri sedemikian rupa hingga tidak memungkinkan lagi adanya jawaban. Kejatuhan si Aku ke dalam spektakel sekalipun ia menemukan rumpang dari kehadiran warta yang sampai padanya memperlihatkan bagaimana spektakel lindap menguasai hidupnya. Objektivitas seragam yang dipaksakan, membuat si Aku mengafirmasi sepihak warta yang sampai padanya hanya melalui apa-yang-ia-lihat. Jika kembali pada tesis Debord di atas, apa yang tampak adalah baik dan apa yang baik akan tampak, ini adalah sebuah sistem sirkular otonom yang pada akhirnya menjalar masuk pada hidup si Aku. Dalam konteks si Aku, sistem sama yang bekerja adalah “apa yang benar akan tampak, dan apa yang tampak adalah benar,” maka yang dianggap kebenaran–“hilangnya” si Kau dan “kehilangan” yang akan dijelang si Aku–sesungguhnya adalah tampilan yang merepresentasikan kebenaran. Jika demikian mengapa kebenaran yang berarti “kehilangan” bagi si Aku dan “hilangnya” si Kau masih bisa tampil antarkeduanya, dan bagaimana bisa keadaan ini disebut sebagai kebenaran? Di titik ini, adalah rongga di mana hamparan citraan yang sedemikian banyaknya menghampir dan bermain-main dengan realitas kita melalui sistem afirmasi sosial. 

Di lain sisi, alienasi adalah bagian integral dari spektakel; sebagai kesatuan dunia dari praksis sosial-universal yang terpecah menjadi realitas dan citraan[7]. Monopoli yang dilakukan spektakel melalui citra yang ditampilkan secara masif dan kontinu ini tercipta dari pasifitas masyarakat modern sebagai akibat keniscayaan yang dibawa oleh spektakel. Kita barang tentu pernah mendengar idiom yang mengatakan jika “diam adalah keengganan, penolakan, atau jawaban tidak.” Tetapi di belahan dunia lain, hal yang seperti ini tidak berlaku. Diam bisa saja diartikan sebagai jawaban iya, dan di kasus si Aku yang terjadi adalah yang kedua, kebenaran tidak terucap tetapi ia hanya tampil dan diakhiri sebagai bentuk sikap “pembenaran”. Kejatuhan si Aku akan tampak memenuhi seisi ruang dengar selepas verses pertama yang akan berulang pada bagian ­pre-chorus hingga chorusTell me, how am I supposed to live without you/Now that I've been loving you so long//How am I supposed to live without you?/And how am I supposed to carry on/When all that I've been livin' for is gone?//

Jika Anda masih memutar How Am I Supposed To Live Without You, setidaknya bagian chorus ini akan terasa sangat menyayat. Tetapi jika Anda juga telah membaca hingga bagian ini, maka kita bisa berjabat tangan dan bersepakat bahwa apa yang ditulis Bolton di sini adalah sepenuhnya spektakel. Sebenarnya kita dapat dengan mudah menunjuk setiap aspek dari kehidupan kita sebagai spektakel, Debord mengatakan bahwa indikasi dari spektakel adalah keterputusan; keterasingan antara diri dengan segala aspek subjektivitas dalam dirinya ketika segala aktivitas kehidupannya telah terkomodifikasi[8]. Di titik ini, “kehilangan” terpecah menjadi dua serupa dengan spektakel; “kehilangan” sebagai realitas dan “kehilangan” sebagai citraan. How Am I Supposed To Live Without You adalah “kehilangan” yang kedua. Dalam spektakel apa yang telah terkomodifikasi terasa membosankan, dan barangkali citraan atas “kehilangan” yang dibawa baik oleh Laura Branigan maupun versi Michael Bolton terasa menjemukan namun juga tetap saja kita menerimanya. Bagi Debord, dualisme semacam ini adalah cara spektakel menyesuaikan diri dengan keadaan sosial manusia; “whenever the representation becomes independent, the spectacle regenerates itself.[9]

“Kehilangan” telah diproduksi ulang tak terhitung berapa milyar kali dan berapa banyak sudah bentuk darinya yang direka ulang. Namun tetap saja kita mengonsumsinya sebagai bagian dari hidup yang menjemukan ini. Spektakel mengasosiasikan pseudo-dunianya sebagai citraan spektakuler yang kita tahu itu dilebih-lebihkan pada beberapa bagian. Kehidupan kini dan nanti menurut Debord adalah sebuah bisnis pertunjukan, sebuah tontonan di mana kita tak hanya sekadar menjadi penonton atau pelaku, namun juga sebagai konsumen, Masyarakat spektakel adalah produsen sekaligus konsumen, atau spectaclist dalam kacamata Debord[10]. Sejak kali mula mendengarkan How Am I Supposed To Live Without You, kita tidak hanya mengasihani nasib si Aku dan mengutuki si Kau. Tetapi lamat-lamat kita juga meratapi diri sendiri sekaligus memaki siapa saja yang pernah menjadi pelaku di balik tiap “kehilangan” yang kita punyai. Lalu Tell me, how am I supposed to live without you?/Now that I've been loving you so long. Kita menyepakati adanya rasa yang dicitrakan melalui dua bait dalam chorus tembang kita di atas. Si Aku menampakkan perasaannya melalui ketidakberdayaan yang ditampilkan sehingga mampu dicerap indera kita. Kemampuan spektakel untuk mengeksploitasi tidak hanya pengalaman namun juga perasaan manusia adalah hal yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Hanya melalui dua bait di atas, kita bisa berempati terhadap si Aku hingga lantas mengutuk si Kau atas apa yang dilakukannya. Tapi jika diperhatikan kembali, bait-bait bernomor ganjil dalam bagian chorus adalah kalimat tanya yang sudah galibnya menemu jawab. Kealpaan jawab yang hadir adalah sebentuk pengalaman relasional manusia yang telah dimediasikan oleh citraan di dalam spektakel. “The spectacle is not a collection of images; it is a social relation between people that is mediated by images[11].” Di akhir lagu barangkali kita telah menyadari bagaimana lucunya ketika kita tersentak, bahwa spektakel pun ujung-ujungnya juga bermain-main secara sepihak dengan realitas kita.

Betapa yang ada adalah sia-sia, dan yang sungguh benar-benar hilang kadang lebih bermakna. Di balik segala kecanggihan dan ketakterhindarkannya spektakel bagi hidup kita, saya berada satu pemahaman dengan Debord yang juga masih meyakini bahwa ada bagian inheren dalam diri kita yang bisa kita bebaskan dari paparan spektakel. Tentu ada harga yang harus dibayar, ada spectacular price. Selama kita tidak menggadaikan jiwa dan hidup kita untuk melebur ke dalam spektakel, kita masih lah manusia. Sekalipun Debord adalah benar, bahwa “in a world that is really upside down, the truth is a moment of the false[12].” Dewasa ini kehidupan memang tidak lagi menempatkan kebenaran ke dalam rak-rak yang tak tersentuh. Kehidupan sekarang ini lebih mengutamakan penandaan dari sesuatu yang ditandakan, salinan daripada yang asli, representasi dibandingkan realitas, dan tampilan daripada esensi. Spektakel barangkali menghadirkan ilusi, pseudo-realitas, dan kita terjebak dengan nikmat di dalamnya. Tetapi celah yang bisa kita gapai dengan tergopoh-gopoh salah satunya adalah melalui pengalaman atas “kehilangan” itu sendiri. “Kehilangan” yang saya rasakan, Anda rasakan juga barangkali, atau yang si Aku rasakan dalam How Am I Supposed To Live Without You adalah sebuah perayaan di balik terbebasnya kita dari teleskrin bernama spektakel. Perasaan, apapun itu–dan terang bukan hanya “kehilangan” semata–selama ia dialami secara langsung hingga penuh seluruh barangkali adalah kunci yang tepat di balik tumpukan gunung jerami citraan guna melepaskan diri dari kooptasi spektakel. Namun hal ini semua akan kembali menjadi sia-sia jika “kehilangan” yang kita miliki, kita representasikan kembali ke dalam cermin luar biasa masifnya bernama spektakel hanya demi mengejar validasi. 

Spektakel adalah sistem afirmasi yang menyandarkan aturan mainnya pada tampilan, sebuah pranala sistem ekonomi kapitalistik yang berevolusi dari being-into-having-into-appearing[13]. Ada sebuah masa di mana ketulusan adalah ruang bagi manusia di dalam satuan masyarakat untuk saling mengafirmasi. Secara primitive kita dapat menyebutnya sebagai peran sosial; sebuah keadaan yang menyatakan si A adalah A didasarkan pada perannya di dalam suatu struktur sosial; sincerity. Relasi ini bersifat langsung, dan sudah barang tentu menuntut adanya kehadiran langsung pula dari setidaknya dua individu untuk saling mengafirmasi peran masing-masing—sebagai role mates—dalam ruang afirmasi ini. Saya—dan juga Anda—di suatu kesempatan tidak bisa menjadi paman/tante tanpa memiliki keponakan, bukan? Maka di kesempatan tersebut, kita tidak dapat menduduki peran sosial tertentu tanpa pasangan yang bisa mengafirmasi identitas kita berdasarkan peran sosial yang kita jalani. Kita tak bisa menjadi kekasih tanpa seorang lain yang menjadi terkasih, begitu pula vice versa

Dalam La Societe Du Spectacle, secara universal Debord ingin mengembalikan sesuatu yang sebelumnya pernah ada dalam kehidupan namun hilang di tengah masyarakat spektakel, adalah otentisitas; authenticity. Bagi saya dalam hidup antarindividu tidak ada urusannya dengan menang atau pun kalah. Pun demikian dalam “kehilangan”, antara yang-hilang dan yang-merasa-kehilangan bukan persoal menang dan kalah, benar dan salah. Mari kembali pada bait-bait verses pertama How Am I Supposed To Live Without You, penundaan atas penerimaan pasif di balik representasi yang tampil mewakili kebenaran dari realitas adalah cara yang paling mungkin untuk sejenak menciptakan disrupsi dari sirkulasi spektakel yang seolah eternal ini. Permasalahannya adalah apakah kita berani menggugat kebenaran hingga ia benar-benar datang merupa "kebenaran" yang tidak lagi bersifat relatif? Masalah lainnya ialah bukan perkara mudah menghadapi kebenaran di balik setiap “kehilangan”. Seorang partner yang pernah menghidupi saya mengatakan bahwa barangkali kekurangan kita–saya–adalah bab menerima kenyataan yang ada, dan itu adalah benar. Lihat saja si Aku yang hanya menerima kebenaran melalui apa yang tampil dari air muka si Kau, dan baru mempertanyakan segalanya setelah semua kesimpulan telah ia bulatkan di kepalanya sendiri. Si Aku sebenarnya hanya perlu menapakkan kaki selangkah lagi guna keluar dari ruang spektakel, dan menjadi otentik. Jalan yang dipilihnya untuk mengkonfrontasi sumber kebenaran yang terwakilkan melalui citraan berita adalah diri si Aku yang memungkinkan untuk dialami secara langsung. Sekalipun berakhir dengan kisah yang telah kita hapal bersama di luar kepala; sebuah tragedi. Pengalaman langsung manusia atas kehidupannya adalah nilai otentisitas yang dimaksudkan Debord untuk mengkonfrontasi spektakel melalui irelevansi intrinsiknya. Saya terang merasakan rasa sakit atas kehilangan dengan intensitas yang mungkin saja bisa saya lebih-lebihkan seperti “bagaimana saya bisa terus hidup tanpa orang yang hilang itu?” Tetapi saya mencoba untuk memilih jalan lain dan tulisan ini adalah inskripsi yang saya pahatkan sekaligus bukti bahwa perasaan yang dialami menjadi pengalaman langsung masih memiliki potensi sebagai penyelamat diri dari spektakel. 

Andaikan berada dalam spektakel, yang saya rasakan adalah “kehilangan” telah hilang di dalamnya. Kita bisa mengafirmasi secara umum dengan satu frasa sakti; “wah, relate sekali denganku!” Ini adalah ruang lain yang beyond spectacle namun lahir dari dinamika spektakel. Spektakel bekerja dalam ruang afirmasi otentisitas. Sederhananya begini; cara Anda mengalami kehilangan terang berbeda dengan cara saya mengalami hal yang sama. Namun dalam spektakel, “kehilangan” tidak lagi perkara merupa segala perasaan kalut, sakit, kosong, et cetera. Apa yang lahir dari “kehilangan” di tengah masyarakat spektakel adalah penggantian. Menggunakan logika ekonomi dan pola konsumerisme yang menjadi bagian di dalamnya, penggantian adalah cara spektakel menawarkan sebentuk coping mechanism dari ketidakmampuan kita memahami diri kita sendiri atas “kehilangan”, lebih radikal lagi, kita telah terasing bahkan dari perasaan yang kita rasakan. Penggantian sebagai solusi atas “kehilangan” datang sebagai upaya memperbarui dengan anggun dan melupakan dengan enggan, entah secara penuh yang-telah-hilang, atau menggantikan secara parsial bagian-demi-bagian dengan tetap mempertahankan bentuk maupun substansi dari apa yang-telah-hilang. Perasaan atas “kehilangan” terkooptasi menjadi sekadar komoditas yang bisa dikapitalisasi atau ditampilkan, sehingga ia tak perlu lagi dirasakan karena telah tersedia berbagai pilihan untuk menggantikan pun merasakan apa yang-telah-hilang. Ketika segala rupa pengalaman langsung dimanipulasi oleh citraan yang sedemikian masif, adalah mustahil “keunikan” atau “otentisitas” dari tiap individu dapat bertahan atau bahkan direbut kembali setelah benar-benar hilang. Otentisitas individu di dalam masyarakat spektakel direpresi guna mewujudkan cita-cita homogenitas yang terang akan memperlancar sirkulasi ekonomi di baliknya. Tidak ada perbedaan atas “kehilangan” yang satu dengan “kehilangan” yang lain, tidak ada perbedaan kualitas di balik tiap bentuk “kehilangan”. Yang ada dalam logika spektakel hanyalah seberapa banyak kuantitas dari kehilangan yang ada.

Dari sini tentu rasa “kehilangan” saya belum tuntas, belum usai. Namun jika kembali pada “kehilangan“ an sich, apakah “kehilangan” bisa disebut sebagai “kehilangan” jika ia hanya dirasakan satu individu atau apakah ia menuntut adanya afirmasi berdasarkan kesepakatan atas pemerian peran sebagai yang-hilang dan yang-kehilangan? Jika “kehilangan” adalah yang pertama, tentu hal yang telah saya sampaikan berterima di sini; tidak adanya individu otentik yang saling mengafirmasi menyebabkan alpanya relasi yang tercipta. Namun jika “kehilangan” merupa sebagai apa yang kedua, kondisi ini tak akan dapat tercapai karena pada akhirnya menciptakan keadaan yang hanya akan melahirkan tuntutan-demi-tuntutan atas terbaginya peran dan perasaan antarkeduanya; kesepakatan adalah kemustahilan dalam kehilangan. Tetapi bayangkan saja seperti ini; Anda telah menjalin relasi dengan partner Anda sebagai dua individu unik dan otentik yang saling mengafirmasi satu sama lain selama sekian waktu. Anda berdua saling hidup dan menghidupi bersama hingga datang kehilangan yang Anda rasakan ketika relasi-afirmasi antara Anda dan partner Anda terputus sepihak dan tiba-tiba. Memang ada faktor kelalaian pada diri Anda, namun “kehilangan” dan kekosongan melanda diri Anda secara mendadak, sungguh membabi-buta. Ada kegagapan seperti Anda tenggelam dalam lautan realitas yang sedemikian dalamnya. Anda berusaha mengkonfrontasi partner Anda, nirjawab, segalanya runtuh, Anda mencoba bangkit, gagal, sempat merasa ringan, untuk kemudian runtuh lagi. Terus-menerus seperti itu selama setahun penuh hingga akhirnya hari ini Anda mendapati “berita” yang datang tanpa diingini bahwa partner Anda (atau mantan partner, barangkali) melangsungkan pernikahan. Ibarat sebuah film, bukankah pemilihan How Am I Supposed To Live Without You adalah tembang latar yang paling tepat untuk mengiringi kehilangan semacam ini?

Sampai di sini, apakah apa yang Anda rasakan masih layak untuk disebut “kehilangan”? Jika Anda masih merasa bahwa apa yang Anda rasakan sebagai kehilangan adalah tetap dan sungguh “kehilangan”, lantas bagaimana dengan partner Anda di pelaminan yang tengah berhujan ria sana? Saya kira kehilangan tidak akan menjadi kehilangan ketika di balik setiap kebersudahan—apapun itu—terjadi kesepakatan—apapun itu. Sementara yang terjadi pada Anda adalah alpanya kata sepakat. Jika ada kata sepakat, maka yang tepat untuk mengungkapkan perasaan yang Anda rasakan saat ini adalah “perpisahan”. Apa yang secara analogis saya minta Anda bayangkan adalah satu fragmen dari apa yang saya maksudkan sebagai “kehilangan” yang dengannya saya berusaha bersitahan atasnya. Ada kegamangan yang tengah saya rasakan; saya tak yakin apakah ini semua masih layak untuk disebut sebagai “kehilangan” sementara partner saya tengah bersuka-cita di belahan lain dunia ini. Andaikan saya membutuhkan validasi dan afirmasi melalui general peer atas perasaan “kehilangan” saya ini, tentu dengan naif saya akan mengatakan bahwa “perayaan pernikahan adalah spektakel paling purba; ia bukan hanya sekadar seremonial nan sakral belaka, melainkan sebuah panggung teater, mini spektakel yang melibatkan setiap orang setidaknya berperan sebagai penonton dan juga pemain–para spectaclist picisan!” Di lain sisi dengan kerangka semacam ini, “kehilangan” yang saya rasakan “hanya” merujuk pada ketidakterlibatan saya dalam sesuatu yang saya sebut dari spektakel-purba. “Kenapa saya, hanya saya, dan harus selalu saya yang bisa menjadi rekan afirmasi dari otentisitas serta keunikan partner saya? Lantas mengapa kalau rekan afirmasinya bukan saya? adalah pertanyaan-pertanyaan yang masih mengguratkan kerut di kening saya bahkan ketika saya menulis sampai di titik yang sedang Anda baca ini. Dalam hemat saya jika saya memilih mengutuk hari bahagia partner saya hanya karena saya tidak terlibat di dalamnya, itu semua hanyalah sebuah kekecewaan yang lahir dari penerimaan pasif saya sebagai individu yang teralienasi dalam spektakel. Setiap orang memiliki kontrol atas realitas personalnya, dan itu benar. Tetapi dasar dari rasa kecewa semacam ini terjadi HANYA ketika saya merasa “memiliki” partner saya sebagai objek, bukan sesama subjek yang bisa saling mengafirmasi kualitas dan eksistensi kehidupan masing-masing. Bahkan negasi, penolakan adalah sebentuk afirmasi atas kesamaan yang telah bergeser, dan dunia memang bekerja dengan cara yang demikian, bukan?

Saya mengamini ketidakbermaknaan hidup, tetapi saya pun menolak rengekan filosofis Emil Cioran tentang tragedi utama eksistensi manusia sebab tak hadirnya pilihan di balik kelahiran kita. Hidup adalah keberanian menjalani keterlemparan di hamparan ketidakberdayaan yang terang tak bermakna. Mengalami kehidupan langsung setiap kenyataan yang hadir dalam realitas keseharian kita juga memerlukan keberanian yang setara. “Kehilangan” dalam spektakel barangkali hanya alpanya kehadiran diri ini di hari bahagia partner saya, tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi substansi atasnya adalah tetap, pernikahan adalah hari bahagia dan perlu keberanian untuk mengakuinya. Rasa sakit dan kecewa hanya collateral damage yang seolah menuntut bahwa perasaan itu lah yang harus dirasakan lebih utama, mengikis keinginan agar turut bahagia untuknya. Tapi justru di sinilah irelevansi spektakel tercipta. Melarikan diri dengan mencari pembenaran dan penghiburan atau pelarian lain pun hanya akan menambal “kehilangan” dengan representasi baru tanpa pernah berdamai dengan tuntas atasnya. Sebaliknya, rasa sakit dan bahagia yang lahir bersisian di balik “kehilangan” yang sama itu harus dihadapi, dirasakan sepenuhnya, dan diterjemahkan menjadi pemahaman atas pengalaman langsung dari kehidupan yang telah coba untuk dihidupi. Dalam setiap pengalaman kehilangan, adalah pelajaran yang mengajarkan tentang hadirnya sesuatu unik nan otentik tentang keterbatasan manusia, juga tentang kehidupan yang pada dasarnya tidak bisa diringkus dalam satu narasi besar bernama spektakel. Barangkali, kehilangan adalah momen ketika kita dihadapkan pada kenyataan yang melampaui representasi. Kehilangan adalah pengingat bahwa di balik segala citra dan skenario yang telah didiktekan, ada sesuatu yang tak bisa direduksi menjadi sekadar komoditas.

Sebagai penutup, sila Anda putar tembang dari Michael Bolton (lagi) yang berjudul Said I Loved You… But I Lied. Kesampingkan dulu representasi yang terasa hadir lewat judulnya, kesampingkan ekspektasi Anda atasnya, tetapi mari berangkat untuk bersama-sama bersijingkat menghidupi kehidupan dengan lebih berani. Sekira empat menit dan lima belas detik kemudian tulisan ini akan saya tutup bersamaan dengan saya mengakhiri malam hari ini. Empat menit dan lima belas detik setelahnya pula waktu saya untuk menyatakan bahwa saya masih percaya, di setiap perasaan yang tumbuh dalam individu—selama ia tak ditampakkan sebagai sesuatu yang ingin ditampilkan—maka semestinya ia merdeka dari kooptasi apa pun, termasuk kapitalisme, spektakel, dan segala partikel ideologis lainnya. Dari “kehilangan” yang sempat saya rasakan dan kebahagiaan yang pada akhirnya partner saya temukan, di penghujung malam ini tidak ada individu yang salah apalagi benar. Kepada siapapun yang menjadikan hari ini sebagai hari baik bagi masing-masing dari mereka, untuk setiap pernikahan, untuk setiap perpisahan, untuk setiap kehilangan yang telah pernah dan akan masing-masing dari kita temui dalam hidup ini, saya langitkan doa-doa yang baik dari relung ketulusan dengan penuh seluruh. 

***

Kepada partner saya, terima kasih telah pernah singgah dan menetap. Terima kasih telah hidup, menghidupi, dan teruslah bertahan hidup dengan penuh keberanian. Kepada setiap kenangan para kekasih yang tak sempat dibawa pergi, semoga desir ombak yang memecah sunyi ke bibir pantai mampu menyapunya bersih. Empat menit lima belas detik sebelum hari ini selesai dan purna ke peraduan, malam ini telah melahirkan setidaknya dua individu yang terbebas. Tetapi jika pada akhirnya salah satu harus dipaksa menyerah, mungkin di hadapan spektakel saya adalah kalah, namun di selebihnya saya berhasil hidup. Sementara kamu berhasil menutupnya, menjadi epilog dari apa yang pernah terangkai namun luput untuk teruntai, dengan bertamu pada temu kebahagiaan yang kamu maksudkan pada akhirnya. Berbahagialah.


Selamat.

 


Your Favorite High-Functional Sociopath (Was)

(21 Januari 2025)



[1] Spektakel/Spectacle (sic.): Sebagai kata benda, spektakel dapat dimaknai sebagai citraan yang tersebar luas melalui berbagai moda komunikasi modern/media. Spektakel bergerak perlahan, citra-citra yang tersebar dapat dilekatkan dan dieksklusikan dari sumbernya, serta direorganisasi untuk membentuk representasi yang sejalan dengan ideologi kelas yang berkuasa, membentuk dasar-dasar teknis dalam ruang hidup. Misalnya, sebuah iklan di televisi memperlihatkan sebuah keluarga dalam sebuah mobil berkendara dengan bahagia sepanjang perjalanan, kemudian bersenang-senang dalam ruang lingkup mobil yang sempit, tapi seakan mampu membawa kebahagiaan—sesuatu yang didambakan banyak manusia modern. Mobilnya diperlihatkan sebagai sebuah konteks yang paling menyenangkan: citraan mobil yang lantas disambungkan dengan citraan bersenang-senang yang secara implisit memberi pengaruh tak-sadar akan sebuah kebutuhan untuk membeli mobil sebagai sebentuk cara guna mencapai kesenangan dan kebahagiaan. Tapi pada faktanya, saat iklan tersebut dipertontonkan, jutaan orang tidaklah berbahagia hanya karena memiliki mobil untuk kemudian berkendara bersama keluarga. Atau pada contoh lain, misalkan seseorang yang akibat padatnya penduduk kota yang penuh polusi, bising dan mendorong timbulnya stres merindukan kehidupan alamiah yang tenang dan tentram, ia tak perlu benar-benar pergi dari kota tempat tinggalnya, ia hanya perlu membeli televisi besar dan berlangganan siaran kabel, mencari saluran film tentang nuansa. Melalui iklan yang menampilkan citraan tentang betapa televisi layar lebar dan layar datar serta didukung sistem audio modern mampu menghadirkan kenyataan ke rumah kita. Kita dilatih untuk mengonsumsi citraan yang merupakan representasi atas kenyataan, hingga kita secara tak sadar mulai berhenti dani tidak lagi menjalani kenyataan itu sendiri. Maka yang terjadi adalah seseorang tersebut tak pernah pergi ke lingkungan alami, ia akan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi yang berarti sebuah penerimaan pasif, sebuah aktivitas non-aktifvtas.

Pengorganisasian aktivitas spektakuler di lain sisi adalah pengorganisasian pasivitas dan pasivikasi sosial modern yang sesungguhnya—pengelompokan manusia sebagai sekadar pengamat atas penerimaan satu sisi dari citra-citra atas hidup mereka sendiri yang telah teralienasikan. Proses pengorganisasian tersebut juga melangkah lebih jauh: spektakel menjadi topik utama obrolan, diskusi dan bahkan juga subyek bagi spektakel lanjutan (misalnya, bahasan “simulacra” dari Baudrillard maupun “prifilicity” oleh Niklas Luhmann di kalangan mahasiswa yang seringkali hanya berujung pada pengkonsumsian lebih banyak buku tapi mengalienasi mereka dari realitas itu sendiri). Pembicaraan anak-anak kawasan urban juga dimonopoli oleh argumen-argumen soal program acara televisi yang mereka tonton hari sebelumnya. Komunikasi dan distribusi tentang pengalaman hidup yang nyata menjadi sebatas komunikasi spektakel dan soal spektakel, komunikasi atas pengalaman pasif dan non-komunikasi. Spektakel secara umum digunakan untuk menamai irama relasi sosial yang non-komunikasi, irama isolasi. Tujuan utama komunikasi adalah sebuah dialog pengalaman nyata, bukanlah sebuah pertukaran kepasifan yang didominasi oleh produksi masif dalam spektakel.

Mimpi buruk spektakel datang melalui citra-citra yang mengambil alih “hidup” dari kehidupan itu sendiri, sepenuhnya telah terealisasikan saat dengan sadar orang-orang berusaha untuk menghidupkan citra-imaji yang dianggap dapat merepresentasikan diri mereka hingga bahkan juga dalam hal seksualitas yang seharusnya momen potensial dari bentuk komunikasi sempurna (kesatuan dari pemberian-kenikmatan dan pengambilan-kenikmatan), kini secara konstan berusaha merepresentasikan citra diri mereka sendiri pada sesamanya; kontak langsung dan juga fisik dari dua orang manusia telah lenyap dalam percintaan palsu yang mengandalkan berbagai citraan-citraan spektakular. Sementara itu, barang dan jasa/komoditas diproduksi oleh kelas pekerja yang juga menjadi bagian aktif dari spektakel, mereka dijual kembali pada pekerja yang membuat komoditas tersebut sebagai sebuah pola yang didorong oleh spektakel utamanya melalui iklan dan dorongan konsumuerisme yang membludak. Konsumsi komoditas menjadi satu-satunya bentuk konsumsi. “Semakin lama, semakin sedikit pertukaran yang tidak dilakukan tanpa eksistensi uang”. Pengalienasian para spektator demi kepentingan obyek kontemplasinya, dapat diekspresikan antara lain sebagai berikut, “semakin ia berkontemplasi semakin kurang ia hidup; semakin ia menerima dan menemukan dirinya dalam citra-citra kebutuhan dominan, semakin ia tidak memahami eksistensinya dan hasratnya sendiri. Dalam hal tersebut semua gerak-geriknya tak lagi menjadi miliknya melainkan milik semua yang lain yang merepresentasikan diri dalam individu tersebut.” (Guy Debord, thesis 30). 

Dapat dianggap juga bahwa spektakel adalah kapitalisme yang dalam tingkat tertentu telah berakumulasi menjadi citra, menjadi tampilan. Semenjak masyarakat modern kini dikendalikan oleh kapitalisme yang mengkonsentrasikan pada dirinya sendiri, spektakel adalah kapital yang menciptakan sebuah dunia yang berisi citranya sendiri. Kapital adalah tuhan material, dan spektakel adalah agama/ideologi materialnya. Spektakel, dalam berbagai bentuknya telah menguasai dunia: pseudo-dunia yang merepresentasikan dirinya sebagai dunia nyata. Spektakel menawarkan ilusi, seperti misalnya ilusi bahwa untuk menjadi kaya, kita tidak perlu lagi mencari uang dan menumpuk kekayaan, tetapi cukup dengan mengenakan tampilan seperti layaknya orang-orang kaya. Atau jika kita ingin memberontak, cukup mengenakan pakaian yang penuh dengan citra-citra perlawanan atau pemberontakan (gambar wajah Che Guevara atau mengkoleksi buku-buku karya Karl Marx). Jika kita ingin pintar, cukup menamatkan kuliah dan menyematkan gelar akademik kita untuk setiap urusan yang menyaratkanpencantuman nama kita. Jika kita ingin peduli dengan dunia sosial, cukup membagikan berita bahwa kita telah menyumbangkan sejumlah uang pada mereka yang sedang berkesusahan, atau membagikan berita yang mewartakan permasalahan sosial. Serta masih banyak contoh lain tentang bagaimana kita melibatkan diri kita dalam spektakel di kehidupan kita sehari-hari, yang membuktikan bahwa spektakel adalah aturan dominan masyarakat/cara pandang terhadap dunia paling mutakhir di tengah kehidupan modern dewasa ini.

[2] Debord, G. (1967) La Societe Du Spectacle. Ken Knabb (penerj.). London: Rebel Press. (thesis 1)

[3] Merujuk pada Michael Bolton sebagai penulis lagu, bukan sebagai penyanyi.

[4] Debord (1967), thesis 2.

[5] Ibid. thesis 12.

[6] Ibid. thesis 5.

[7] Ibid. thesis 7.

[8] Ibid. thesis 16-18, 42, 153.

[9] Ibid. thesis 18.

[10] Ibid. thesis 14.

[11] Ibid. thesis 4. 

Misalnya saat seorang “bintang film” atau “bintang olah raga” mengiklankan sebuah produk, kita secara pasif dipaksa untuk merespon citra yang mereka tampilkan sebagai individu yang ideal dan lantas mengemulasikan hal tersebut dengan cara mengasosiasikan diri kita sendiri dengan citra yang sejalan dengan bagaimana para bintang tersebut mengasosiasikan dirinya. Contohnya, saat Dian Sastro mengenakan kaos kaki panjang sebagai seragam sekolahnya, saat itu pula ia terasosiasikan dengan film “Ada Apa Dengan Cinta.” Imlikasinya adalah banyak dari perempuan jenjang SMA yang juga lantas mengenakan kaos kaki panjang sekaligus memanjangkan rambut dengan maksud untuk mengapropriasi citra Cinta dan mengasosiasikan diri mereka dengan citra dari Dian Sastro, yang mereka anggap sebagai seseorang yang ideal.

[12] Ibid, thesis 9.

[13] Ibid.  thesis 17.

Comments

Popular Posts